Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2022 tumbuh 9,8 persen secara tahunan pada Rp8.222,2 triliun.
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 14,9 persen tahunan," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dikutip Jumat (25/11).
M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi rupiah). Lalu, M2 meliputi M1, uang kuasi (tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.
Di sisi lain, surat berharga selain saham menunjukkan pertumbuhan positif 0,3 persen secara yoy, meningkat tipis dari bulan sebelumnya. Erwin menjelaskan berdasarkan faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 pada Oktober dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit, yang tumbuh 11,7 persen secara tahunan. Itu lebih besar dari bulan sebelumnya yang tumbuh 10,8 persen secara tahunan, terutama ditopang penyaluran kredit produktif atau investasi.
Kredit yang diberikan terbatas hanya dalam bentuk pinjaman, dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
