Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk. Peresmian IBMA berlangsung di BSI Tower, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (dok. Pegadaian)
Sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan pasar bulion. Berdasarkan data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton, menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia.
Namun, potensi tersebut dinilai masih dapat dioptimalkan melalui penguatan ekosistem dan integrasi antarpelaku industri. IBMA hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut dengan menjadi jembatan antara regulator dan pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai emas, mulai dari pertambangan, jasa keuangan, pemurnian (refinery), manufaktur, hingga jasa pendukung bisnis.
Saat ini, sejumlah perusahaan telah bergabung sebagai anggota IBMA, di antaranya Pegadaian, Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk, UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk, Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.
Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti mengatakan asosiasi tersebut diharapkan menjadi katalis perubahan lanskap industri emas Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk bertransformasi dari negara produsen komoditas emas menjadi pusat perdagangan dan jasa bullion di kawasan regional.
“Kehadiran IBMA diharapkan menjadi platform utama bagi seluruh pelaku industri untuk membangun pasar bulion Indonesia yang kredibel, kompetitif, dan berstandar internasional. Dengan ekosistem yang semakin kuat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara penghasil emas, tetapi juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa bulion di kawasan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Selfie.
Integrasi ekosistem melalui IBMA diharapkan mempercepat hilirisasi komoditas emas sekaligus memperluas instrumen keuangan berbasis emas, seperti tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas. Penguatan tersebut juga diarahkan untuk menciptakan deeper market dengan tingkat likuiditas yang lebih tinggi.
Pengembangan pasar bulion sendiri menjadi bagian dari agenda transformasi ekonomi pemerintah untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029, sejalan dengan agenda hilirisasi dalam visi Asta Cita.
Untuk mendukung operasional asosiasi, Pegadaian telah menyiapkan kantor sekretariat dan ruang rapat IBMA di lantai dua Pegadaian Tower. Menurut Selfie, lokasi tersebut berada di kawasan yang telah berkembang sebagai salah satu pusat ekosistem emas nasional.
“Kami meyakini bahwa penempatan sekretariat IBMA di lingkungan Pegadaian Tower merupakan pilihan yang tepat. Kawasan Pegadaian telah berkembang menjadi salah satu pusat ekosistem emas nasional. Di sini telah tersedia berbagai fasilitas yang saling terintegrasi, mulai dari layanan Bullion Pegadaian, Penyimpanan Vault berstandar internasional, ATM Emas, Galeri 24, G-Lab, pusat lelang emas, hingga berbagai kegiatan bazar emas yang secara rutin diselenggarakan. Masyarakat pun telah mengenal kawasan ini sebagai destinasi untuk berinvestasi emas, memperoleh pembiayaan berbasis emas, maupun menikmati berbagai layanan lainnya yang mendukung perkembangan industri bulion Indonesia,” tambah Selfie.
Ke depan, IBMA bersama seluruh anggotanya berkomitmen memperkuat pengembangan produk bullion, sinergi dengan sektor keuangan syariah, kemudahan berusaha, serta literasi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas basis investor dan meningkatkan pemanfaatan emas sebagai bagian dari sistem keuangan nasional.
Pembentukan IBMA sekaligus menandai upaya bersama para pemangku kepentingan untuk membangun rantai nilai emas nasional yang lebih terintegrasi, transparan, dan berdaya saing global. Dengan ekosistem yang semakin kuat, potensi emas Indonesia diharapkan tidak hanya bernilai sebagai komoditas, tetapi juga menjadi salah satu penggerak hilirisasi, pendalaman pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi nasional. (WEB)