Jakarta, FORTUNE – Industri perbankan nasional optimistis membukukan pertumbuhan kinerja positif pada triwulan III-2026 di tengah kewaspadaan terhadap risiko ketidakpastian global berkepanjangan.
Berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), keyakinan tersebut tecermin pada Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang bertahan pada level 83 (zona optimistis), ditopang pertumbuhan total kredit 13,58 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga mencapai Rp9.135 triliun per Juli 2026.
Hasil survei yang melibatkan 99 bank umum—mewakili 97,91 persen total aset perbankan nasional per data Juni 2026—memproyeksikan penyaluran kredit akan terus meningkat seiring berlanjutnya ekspansi pembiayaan melalui pipeline yang tersedia.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan optimisme sektor perbankan turut didukung oleh kemampuan industri dalam mengendalikan manajemen risiko.
“Hasil SBPO menunjukkan industri perbankan masih optimis terhadap prospek kinerja dan memiliki keyakinan untuk mengelola risiko. Optimisme tersebut tercermin dari proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan kemampuan bank dalam menjaga risiko tetap terkendali,” ujar Dian melalui keterangan resmi yang dikutip di Jakarta.
Tingkat ketahanan industri juga tecermin pada Indeks Persepsi Risiko (IPR) yang berada pada angka 57 (zona optimistis). Mayoritas bank meyakini kualitas kredit dan risiko likuiditas tetap terjaga. Selain itu, Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada taraf rendah dengan porsi aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban (long position).
Dari segmen sektoral, industri pengolahan yang menjadi porsi terbesar penyaluran kredit nasional tumbuh 16,85 persen (YoY) pada Juli 2026. Sektor ini diproyeksikan tetap menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan kredit ke depan.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 25,13 persen (YoY), disusul kredit modal kerja sebesar 11,04 persen (YoY) dan kredit konsumsi 5,38 persen (YoY).
Dari segmen debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi yaitu 22,10 persen (YoY), sedangkan kredit UMKM melanjutkan tren positif dengan tumbuh 1,62 persen (YoY). Ditinjau dari kepemilikan, bank BUMN memimpin pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 16,95 persen (YoY).
Meski indikator utama seperti permodalan dan likuiditas perbankan saat ini dalam kondisi memadai, Dian mengingatkan perbankan nasional untuk memperhitungkan dampak dinamika ekonomi global terhadap perekonomian domestik.
“Seluruh responden bank umum menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap perkembangan kondisi global yang berpotensi berlangsung dalam jangka waktu panjang (prolonged) dan bahkan dapat disertai risiko pemburukan yang lebih dalam,” kata Dian.
