Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PERBANAS :Fenomena Makan Tabungan Sedang Terjadi di Masyarakat
Ilustrasi seseorang menyisihkan uang sebagai tabungan untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan, termasuk biaya menonton konser. Foto: (Towfiqu Barbhuiya/Unsplash)
  • PERBANAS menyatakan fenomena makan tabungan masih terjadi, terutama pada kelompok menengah bawah, dengan rata-rata saldo simpanan kecil turun dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta per Mei 2026.
  • Simpanan bernilai besar justru meningkat: rata-rata saldo rekening di atas Rp5 miliar naik dari Rp27,62 miliar pada 2018 menjadi Rp38,77 miliar per Mei 2026, mencerminkan perbedaan kondisi keuangan.
  • PERBANAS mencatat rekening dolar AS meningkat, didorong pelemahan rupiah, sementara LPS membantah fenomena makan tabungan karena seluruh kelompok simpanan disebut tetap tumbuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (PERBANAS) menyatakan bahwa fenomena makan tabungan fenomena makan tabungan masih terjadi di masyarakat, terutama kelompok menengah bawah.

Chief Economist PERBANAS, Winang Budoyo menegaskan bahwa fenomena makan tabungan telah berlangsung sejak 2018, dan trennya semakin meningkat hingga Mei 2026.

"Makan tabungan di kolom (tabungan) kecil sebetulnya sudah kelihatan. Kalau pada 2018 itu rata-rata saldonya Rp3,1 juta, sekarang tinggal Rp1,7 juta," ujar Winang kepada wartawan, Kamis (30/7).

Menurut Winang, penurunan rata-rata saldo tersebut menunjukkan bahwa dana yang digunakan masyarakat dari tabungan lebih besar dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi simpanan.

Meski demikian, ia menyebut fenomena ini tidak terjadi di simpanan dengan nilai besar. Berdasarkan data yang dihimpun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kemudian diolah PERBANAS, simpanan dengan jumlah diatas Rp5 miliar pada 2018 rata-rata saldonya mencapai Rp27,62 miliar. Sedangkan per Mei 2026 naik menjadi Rp38,77 miliar.

Winang menilai, perbedaan tersebut mencerminkan kondisi keuangan yang berbeda antara kelompok masyarakat dengan simpanan kecil dan kelompok dengan simpanan besar.

Di sisi lain, ia juga menyoroti jumlah rekening dollar AS yang mencapai 16,53 juta atau setara 2,4 persen dari total rekening simpanan nasional. Angka tersebut naik 85 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dari sisi nominal, simpanan valas mencapai Rp 1.741,46 triliun atau naik 1,6 persen secara bulanan dan 19,5 persen secara tahunan.

Menurutnya, data tersebut merupakan gabungan rekening korporasi dan perorangan sehingga tidak dapat serta-merta diartikan sebagai peningkatan jumlah orang kaya di Indonesia.

Meski demikian, dia melihat pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat membuka lebih banyak rekening dolar AS. Menurutnya, sebagian masyarakat memilih menyimpan dana dalam mata uang dolar sebagai bentuk perlindungan terhadap pelemahan rupiah.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu menyatakan fenomena makan tabungan atau penggunaan simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak terjadi.

Menurut Anggito, seluruh kelompok simpanan, mulai dari nominal di bawah Rp100 juta hingga di atas Rp5 miliar, masih mencatatkan pertumbuhan. Ini artinya dana masyarakat di perbankan tetap meningkat dan menopang aktivitas ekonomi.

"Semua masih tumbuh, baik itu tabungan-tabungan yang di bawah Rp100 juta maupun sampai dengan di atas Rp5 miliar semuanya tumbuh dan bergerak gitu ya," kata Anggito Senin (27/7).

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article