Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kenaikan produksi listrik dan meningkatkan kinerja keuangan perseroan.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, produksi listrik PGEO tumbuh 15,22 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1.370 gigawatt hour (GWh).
Kenaikan tersebut dikontribusi dari sejumlah wilayah kerja utama, yakni Kamojang sebesar 483 GWh, Lahendong 213 GWh, Ulubelu 408 GWh, Lumut Balai 240 GWh, serta Karaha 26 GWh. Kinerja ini juga diperkuat dari operasonal PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) yang telah beroperasi sejak pertengahan 2025.
Sejalan dengan peningkatan produksi, PGEO membukukan pendapatan sebesar US$116,56 juta atau naik 14,82 persen dibandingkan US$101,51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat signifikan sebesar 40 persen menjadi US$43,899 juta, dari sebelumnya US$31,352 juta.
Dari sisi operasional, PGEO mencatat perbaikan kinerja dengan capacity factor naik 5,03 persen secara tahunan menjadi 90,77 persen. Sementara itu, availability factor turut meningkat 0,27 persen menjadi 99,63 persen.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan optimalisasi pemanfaatan aset dan operasional di berbagai Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PGEO.
"Tahun ini, PGEO menargetkan peningkatan produksi listrik dan uap terkonsolidasi hingga mencapai 5.255 GWh pada 2026" ujarnya dalam keterangan tesmi, Rabu (6/5).
Untuk mencapai target, PGEO fokus pada pengembangan berbagai proyek strategis, di antaranya PLTP Hululais Unit 1 & 2 berkapasitas 2x55 MW serta proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW.
Sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut antara lain Ulubelu Binary Unit (BU) berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi secara penuh (commercial operation date/COD) pada 2027.
Selain itu, sejumlah proyek ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2028 meliputi Kamojang Low Pressure (LP) (5 MW), Lahendong LP (15 MW), Lahendong BU Unit 1 (15 MW), Lumut Balai BU Unit 1 (10 MW), Sibayak BU (5 MW), serta Hululais BU Unit 1 (30 MW).
Ahmad menyebut, perseroang sat ini tengah mempersiapkan pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW yang ditargetkan mencapai COD pada 2030.
Tidak hanya itu, perusahaan plat merah ini juga membidik kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034. Sejalan dengan itu, perseroan mengoptimalkan potensi 3 GW yang telah diidentifikasi.
"Seluruh portofolio ini merupakan upaya PGE untuk memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan energi nasional serta target Net Zero Emission 2060," ungkapnya.
Saat ini, perusahaan mengelola 15 WKP dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari 727 MW yang dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE serta 1.205 MW yang dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Dari sisi keberlanjutan, hingga 31 Maret 2026, PGE mencatat penghindaran emisi sebesar 1.167.992,70 ton CO2e dibandingkan dengan emisi dari pembangkit listrik berbasis batu bara.
