Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Purbaya Soroti NPL KUR 10 Persen, Bank Mandiri Ungkap Tantangan
Kredit Usaha Rakyat. (lifepal)
  • Purbaya mempertimbangkan perubahan skema penyaluran, termasuk opsi akuisisi PNM oleh Kementerian Keuangan.

  • Pengelolaan KUR tidak cocok dijalankan perusahaan profit-oriented.

  • Bank Mandiri mencatat NPL nett KUR hanya 0,91 persen pada akhir 2025.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan sorotan tajam terhadap lonjakan rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sempat menyentuh 10 persen pada 2025.

Kondisi tersebut memicu sang menteri untuk merancang rencana merombak skema penyaluran, termasuk membuka opsi akuisisi PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dari induknya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI), agar dikelola langsung oleh Kementerian Keuangan.

Purbaya menegaskan, inefisiensi dalam tata kelola penyaluran KUR berdampak langsung pada ketahanan fiskal, mengingat bunga program ini disubsidi sepenuhnya oleh anggaran negara.

“KUR 10 persen NPL-nya. Kok bisa sebesar itu? Manajemennya tidak betul [dalam penyalurannya] apa enggak? [Bunga] subsidinya kita yang bayar. Nanti kalau ada apa-apa [dampaknya] ke [anggaran] kita juga rasanya,” ujar Purbaya usai konferensi pers APBN Kita di Jakarta.

Dalam hematnya, model pengelolaan KUR tidak selaras jika dijalankan oleh institusi yang berorientasi laba. Menurutnya, negara tidak mengejar keuntungan komersial dalam skema subsidi bunga tersebut, melainkan aksesibilitas bagi pelaku usaha kecil.

"Kalau perusahaan yang profit-oriented yang publik, itu cari untung sebesar-besarnya by design. Sedangkan KUR, desainnya tidak untuk itu, kan? Untuk memberi pembiayaan semurah-murahnya kepada masyarakat atau bisnis yang membutuhkan, UMKM yang membutuhkan," katanya.

Merespons sorotan regulator, perbankan mulai angkat bicara. SVP Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, Bayu Trisno Arief Setiawan, mengakui adanya tekanan pada segmen bisnis UMKM. Meski demikian, ia menyatakan kualitas KUR di institusinya tetap terjaga dengan NPL nett 0,91 persen per akhir 2025.

Bayu mengatakan penyaluran ke sektor pendukung ekosistem pertambangan menjadi area yang paling menantang sepanjang tahun ini dan sempat memengaruhi profil risiko Bank Mandiri. Namun, langkah preventif telah diambil melalui implementasi sistem digital agar proses seleksi debitur lebih presisi.

“Kami four-eyes principle itu dengan sistem. Jadi, semua keputusan kredit itu dilakukan by decision engine. Nah, decision engine itu parameter segala macam disusun oleh risk,” papar Bayu dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (25/2).

Kendati dibayangi dinamika industri, Bank Mandiri tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan kredit UMKM tahun ini.

Sebagai catatan, sepanjang 2025 bank pelat merah ini telah menyalurkan KUR senilai Rp40,99 triliun kepada 355.658 pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

Sektor pertanian dan perdagangan menjadi motor utama yang menggerakkan penyaluran kreditnya.

Editorial Team