Comscore Tracker
FINANCE

Luhut: Potensi Fintech Tinggi tapi Jarang Sentuh Segmen Pedesaan

Ekonomi digital RI berpotensi capai US$330 miliar di 2030.

Luhut: Potensi Fintech Tinggi tapi Jarang Sentuh Segmen PedesaanMenko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan sambutan saat penandatanganan perjanjian KPBU Bandara Kediri, Rabu (7/9).

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, potensi ekonomi digital hingga pengembangan fintech di dalam negeri masih sangat tinggi.

Namun demikian, dirinya menyayangkan masih banyak fintech yang belum menyentuh sektor pedesaan. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong pembiayaan fintech untuk menyasar segmen pedesaan.

“Saya senang fintech ini ada, tapi tanpa ini ada 74 ribu desa lebih. Kalian harus menyentuh ini, harus memperhatikan desa-desa ini," kata Luhut pada acara Indonesia Fintech Summit 2022 secara virtual Kamis (10/11).

Dana desa yang telah disalurkan Pemerintah mencapai Rp460 triliun

Desa Wisata Sembungan, Wonosobo.

Luhut mengungkapkan, berdasarkan data Pemerintah, dana desa yang telah ddihimpun dan disalurkan sejak 2015 hingga 2021 bisa mencapai Rp460 triliun. Dana tersebut bisa meningkatkan kemandirian 3.269 desa hingga tahun 2021.

Bahkan, daerah terbelakang dan sangat terbelakang di Indonesia mampu berkurang dari 41.315 pada 2015 menjadi 23.028 pada 2021. Sedangkan untuk jumlah orang miskin di desa juga tercatat semakin menurun dari 17,89 juta pada Maret 2015 menjadi 15,37 juta orang pada 2021.

Ekonomi digital RI berpotensi capai US$330 miliar di 2030

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar juga mengungkapkan, potensi nilai ekonomi digital Indonesia bisa mencapai lebih dari US$330 miliar pada tahun 2030. Namun demikian, perlu adanya kolaborasi yang kuat antara regulator dan pelaku bisnis untuk dapat menangkap potensi tersebut.

"Ekonomi digital kita saat ini berada dalam jalur pertumbuhan yang sangat kuat,” kata Mahendra.

Dirinya bahkan menyatakan, laju inovasi digital berjalan dengan sangat cepat. Bahkan kondisi tersebut terkadang memaksa regulator untuk melakukan pendekatan yang sesuai dalam mengikuti inovasi yang dinamis.

OJK pun memandang, ekonomi digital Indonesia saat ini telah bernilai lebih dari US$70 miliar, yang mana nilai tersebut merupakan nilai tertinggi dibanding negara lain di ASEAN. Dengan begitu, pihaknya berharap Indonesia bisa menjadi jangkar kuat untuk pertumbuhan ekonomi regional.

Related Articles