Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei BI: Permintaan Kredit Baru di Perbankan Melonjak Ditopang KPR
Ilustrasi cicilan KPR (pexels.com/Atlantic Ambience)
  • Bank Indonesia mencatat lonjakan permintaan kredit baru pada triwulan II-2026 dengan SBT mencapai 93,08 persen, naik signifikan dari 38,74 persen di triwulan sebelumnya.
  • Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen menjadi pendorong utama pertumbuhan pembiayaan konsumsi, sementara permintaan kartu kredit justru melambat dengan SBT hanya 30,18 persen.
  • Meskipun penyaluran kredit meningkat, perbankan tetap selektif dengan ILS positif 1,03; namun diperkirakan akan lebih longgar pada triwulan III-2026 seiring proyeksi SBT 84,65 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lonjakan permintaan kredit baru yang tercatat dalam survei Bank Indonesia menunjukkan dinamika positif pada sektor keuangan nasional. Pertumbuhan kuat di berbagai lini, terutama KPR dan KPA, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas ekonomi. Sikap hati-hati perbankan dalam menyalurkan dana turut menandakan pengelolaan risiko yang matang, menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Gairah penyaluran kredit baru perbankan nasional meningkat pada triwulan II-2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pembiayaan baru melesat hingga 93,08 persen. Angka ini menanjak tajam dari capaian triwulan mula-mula yang sekadar terpatok pada level 38,74 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengemukakan ekspansi ini melanda seluruh lini. Laju pertumbuhan tecermin pada lonjakan nilai SBT, mulai dari kredit modal kerja hingga kredit konsumsi.

Sektor papan menjadi motor utama penyerapan kredit konsumsi. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) meraup SBT tertinggi sebesar 78,20 persen.

Sektor lain turut mengekor di belakangnya. Perinciannya meliputi kredit kendaraan bermotor sebesar 67,95 persen, kredit multiguna 69,71 persen, dan kredit tanpa agunan 49,70 persen.

Kelesuan justru melanda transaksi lewat alat pembayaran kartu.

“Sementara itu, permintaan kartu kredit SBT hanya 30,18 persen mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya,” kata Ramdan melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (20/7).

Kendati permintaan masyarakat berlari kencang, otoritas moneter menilai kalangan perbankan bersikap ekstra hati-hati. Selektivitas pengucuran dana pada triwulan II-2026 justru lebih ketat. Sikap ini diindikasikan oleh Indeks Lending Standard (ILS) yang bertengger pada zona positif sebesar 1,03.

“Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut, antara lain pada aspek suku bunga kredit, plafon kredit, perjanjian kredit, jangka waktu kredit, dan biaya persetujuan kredit,” ujar Ramdan.

Menatap sisa tahun, kalangan bankir tetap optimistis. Kinerja pembiayaan diproyeksikan terus tumbuh tangguh hingga tutup tahun 2026. Prospek makroekonomi dan kondisi moneter dinilai masih cerah. Manajemen risiko bank dalam penyaluran dana juga terbilang terjaga.

Sebagai kilas balik, data BI menunjukkan outstanding kredit perbankan per Mei 2026 telah menembus Rp8.759 triliun. Angka raksasa ini tumbuh kokoh 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Kredit modal kerja tampil sebagai penyokong utama pada bulan tersebut.

Menjelang triwulan III-2026, keran kredit baru diprakirakan tetap mengucur deras. Estimasi SBT dipatok pada angka 84,65 persen. Namun, standar penyaluran kredit diproyeksikan bakal lebih longgar. Estimasi ILS diprakirakan berbalik arah menuju teritori negatif, yakni sebesar 2,25.

Curated For You

Editorial Team

Related Article