Jakarta, FORTUNE - Ekspansi gerai menjadi senjata utama bisnis minuman Cina dalam beberapa tahun terakhir. Chagee, Mixue, hingga Luckin Coffee berlomba memperluas jaringan, mengejar konsumen, dan membangun skala bisnis. Namun, ketika jumlah gerai sudah mencapai puluhan ribu, pertanyaan yang muncul mulai bergeser: seberapa produktif setiap gerai dan apakah ekspansi masih menghasilkan keuntungan?
Ekonom, penasihat, sekaligus pengusaha Lee Kok How menilai industri minuman Cina telah memasuki fase baru. Menurut dia, ukuran keberhasilan tidak lagi cukup dilihat dari jumlah gerai, tetapi dari kualitas skala yang berhasil dibangun perusahaan. Pandangan tersebut disampaikan Lee dalam laporannya di The Business Times. Ia menilai strategi yang sebelumnya bertumpu pada kecepatan ekspansi, harga murah, pemasaran digital, dan pembukaan gerai secara agresif kini mulai menghadapi batasnya.
Perubahan itu terlihat dari kinerja sejumlah pemain besar. Luckin Coffee, misalnya, membukukan pendapatan RMB15,89 miliar pada kuartal II 2026, naik 28,5 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, perusahaan menambah 2.714 gerai sehingga total jaringannya mencapai 36.310 gerai. Namun, pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya tercermin di tingkat gerai lama. Penjualan gerai yang dioperasikan sendiri turun 5,3 persen secara tahunan. Luckin menjelaskan penurunan itu antara lain dipengaruhi basis pembanding yang tinggi karena subsidi platform pesan-antar makanan pada tahun sebelumnya.
Kinerja Luckin menunjukkan paradoks dalam ekspansi berbasis jaringan. Pendapatan terus bertambah seiring pembukaan gerai baru, tetapi pertumbuhan di gerai yang sudah ada justru melemah. Lee menilai kondisi tersebut perlu diperhatikan karena semakin padat jaringan suatu merek, semakin besar pula kemungkinan satu gerai mengambil permintaan dari gerai lain dengan merek yang sama.
Risiko itu menjadi semakin relevan karena Luckin menjalankan model hibrida. Hingga akhir kuartal II 2026, sebanyak 23.734 gerai merupakan gerai yang dioperasikan sendiri, sedangkan 12.576 lainnya merupakan gerai kemitraan.
Model kepemilikan langsung memberikan kendali lebih besar atas data pelanggan, harga, produk, dan pengalaman konsumen. Namun, konsekuensinya adalah perusahaan juga menanggung biaya sewa, tenaga kerja, dan operasional.
Pada kuartal II 2026, margin operasi Luckin turun menjadi 13,4 persen dari 14,1 persen setahun sebelumnya. Meski demikian, laba operasi secara year on year masih naik 22 persen menjadi RMB2,12 miliar.
Artinya, model tersebut belum kehilangan daya tarik. Aplikasi digital, basis pelanggan yang besar, serta kemampuan perusahaan meluncurkan produk baru tetap menjadi keunggulan. Rata-rata pelanggan yang bertransaksi setiap bulan bahkan mencapai rekor 112,7 juta pada kuartal II, naik 22,9 persen dari tahun sebelumnya.
