Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Industri Kebugaran Indonesia Kian Menjanjikan, Ini Tantangannya
Pembukaan 2nd Indonesia Fitness Expo yang berlangsung pada 11–13 September 2026 di SMESCO Jakarta/Dok. Fortune IDN/Desy Y.
  • Industri kebugaran Indonesia makin tumbuh sebagai gaya hidup sehat pascapandemi; peserta Indonesia Fitness Expo hampir 70 exhibitor, naik sekitar 25 persen, sementara gym lokal berekspansi puluhan cabang.
  • Peluang pasar masih besar karena 37,4 persen penduduk usia 10 tahun ke atas kurang aktif secara fisik, tetapi keterbatasan waktu dan persepsi gym mahal menghambat partisipasi rutin.
  • Pengembangan fitness, wellness, dan health tourism memerlukan ekosistem terhubung antardestinasi, infrastruktur, pelaku usaha, pemerintah, serta standar layanan; investasi dan produk lokal seperti jamu dinilai berpotensi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNEIndustri kebugaran Indonesia tengah memasuki fase baru. Gym tak lagi sekadar menjadi tempat membentuk tubuh, tetapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang semakin diperhatikan masyarakat. Perubahan itu turut mendorong bermunculannya lebih banyak pemain dan memperluas pasar kebugaran di Tanah Air.

Perubahan itu terlihat dari meluasnya minat masyarakat terhadap latihan fisik setelah pandemi. Ketua Umum Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Jansen Ongko, melihat perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa industri kebugaran Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang semakin besar.

“Dulu itu lebih banyak komunitas lari, kemudian komunitas-komunitas olahraga prestasi biasa. Sekarang semua orang udah pada tahu yang namanya functional training, semua orang udah tahu yang namanya pentingnya kekuatan atau massa otot, jadi luar biasa,” ujar Jansen, Jumat (11/9), usai pembukaan 2nd Indonesia Fitness Expo yang digelar di SMESCO Jakarta pada 11–13 September 2026.

Geliat tersebut tercermin dari penyelenggaraan Indonesia Fitness Expo tahun ini. Jansen mengatakan jumlah peserta pameran telah mencapai hampir 70 exhibitors, naik sekitar 25 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Ekspansi pusat kebugaran menjadi salah satu indikator untuk membaca prospek bisnis pusat kebugaran. Ia melihat sejumlah merek gym lokal telah berkembang dengan puluhan cabang, menunjukkan bahwa pasar konsumen mulai semakin luas.

“Artinya konsumen yang jangkau luas, pemain pasar yang semakin besar, jadi bisa dibilang ini sangat-sangat menjanjikan,” ujarnya.

Perkembangan itu terjadi ketika kebutuhan masyarakat terhadap aktivitas fisik masih berpeluang besar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Sebaliknya, 62,6 persen berada dalam kategori cukup aktif.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan semata-mata ketiadaan minat. Sebanyak 48,7 persen responden menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan kurang melakukan aktivitas fisik. Alasan lain mencakup malas, usia lanjut, dan tidak memiliki teman untuk beraktivitas.

Namun, tantangannya adalah mengubah masyarakat yang belum aktif menjadi konsumen aktivitas fisik secara rutin. Jansen sendiri melihat gym bukan hanya sebagai tempat olahraga, tetapi bagian dari pendekatan kesehatan preventif. Ia menyebut pusat kebugaran sebagai semacam “rumah sehat”, karena penggunanya datang dalam kondisi sehat untuk mempertahankan atau meningkatkan kebugaran.

“Kalau rumah sakit itu rumah untuk orang sakit, sedangkan kalau gym mereka datang dalam keadaan sehat. Makanya rumah sehat dan bugar,” kata Jansen.

Jansen mengatakan kini lansia, anak-anak, hingga masyarakat awam mulai mengenal latihan kekuatan. Perubahan tersebut membuat pasar kebugaran tidak lagi terbatas pada konsumen yang mengejar bentuk tubuh tertentu.

Namun, persepsi di masyarakat bahwa keanggotaan pusat kebugaran relatif mahal masih menjadi hambatan. Padahal, masyarakat tidak selalu harus menggunakan pusat kebugaran premium untuk mendapatkan manfaat latihan kekuatan.

“Jadi kebanyakan itu karena narasinya bahwa gym itu mahal, jadi kesannya itu adalah olahraga orang eksklusif. Atau orang-orang yang have-lah kesannya. Padahal latihan menggunakan berat badan sendiri, seperti kalistenik atau latihan dengan trainer atau latihan mandiri di rumah dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau," katanya.

Meluasnya minat terhadap kebugaran juga menciptakan kebutuhan terhadap tenaga profesional. APKI saat ini mencatat lebih dari 6.000 pelatih kebugaran yang telah terdaftar. Meski demikian, Jansen mengatakan APKI belum memiliki data internal mengenai jumlah usaha pusat kebugaran di Indonesia. Asosiasi, kata dia, berencana melakukan riset dalam waktu dekat.

Pengunjung menyambangi sejumlah booth dalam 2nd Indonesia Fitness Expo yang digelar di SMESCO Jakarta pada 11–13 September 2026.

Ekosistem menjadi tantangan

Prospek industri kebugaran juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan health tourism. Ketua Harian Indonesia Health Tourism Society (IHTS), dr. Leny Pintowari mengatakan pengembangan health tourism membutuhkan keterhubungan berbagai subsektor.

“Jadi perlu membangun ekosistem health tourism. Di dalamnya ada medical tourism, wellness tourism, sport tourism, dan MICE,” ujarnya.

Adapun Global Wellness Institute (GWI) mencatat ekonomi wellness dunia mencapai sekitar US$6,8 triliun pada 2024. GWI juga memperkirakan ekonomi wellness global akan terus tumbuh hingga mendekati US$9,8 triliun pada 2029.

dr. Leny mengatakan setiap daerah memiliki modal berbeda untuk dikembangkan menjadi destinasi health tourism. Bali telah lebih dulu memiliki kekuatan di sektor pariwisata, sementara Yogyakarta mulai menunjukkan geliat. Di Sumatera, Lampung dapat mengambil ceruk melalui sport tourism, khususnya olahraga selancar. Potensi itu tercermin dari Krui Pro 2026 di Pantai Tanjung Setia, Pesisir Barat, yang masuk dalam kalender World Surf League (WSL) Qualifying Series. Kehadiran ajang internasional tersebut membuka peluang untuk mengerek popularitas wisata bahari sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Menurutnya, memaksimalkan potensi seharusnya tidak berhenti pada penyelenggaraan acara olahraga. Infrastruktur, pelaku usaha, pemerintah daerah, masyarakat, hingga standar pelayanan harus benar-benar dibangun sebagai satu ekosistem. Namun, potensi olahraga dan wellness di Indonesia belum otomatis berubah menjadi ekosistem bisnis yang matang.

Leny melihat masih terdapat pekerjaan rumah dalam membangun konektivitas antara destinasi, infrastruktur, pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat. Setiap daerah perlu dikurasi berdasarkan keunggulannya masing-masing, termasuk memastikan fasilitas dan layanan memenuhi standar yang dapat diterima wisatawan mancanegara.

“Pemerintah pusat, daerah, pelaku industrinya juga itu harus dirajut menjadi suatu ekosistem yang baik supaya berkembang,” katanya.

Di sisi lain, peluang investasi di sektor wellness dan health tourism masih terbuka lebar. Menurut Leny, tren hidup sehat dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang, terlebih Indonesia memiliki kekayaan lokal yang bisa dikapitalisasi menjadi produk wellness bernilai ekonomi tinggi. Jamu, misalnya, dinilai berpeluang memiliki daya tarik global seperti ginseng Korea.

Di level industri, Jansen melihat ruang pameran menjadi tempat mempertemukan pelaku bisnis dengan konsumen sekaligus membuka ruang business-to-business (B2B), business-to-consumer (B2C), dan networking. Karena itu, Jansen menilai industri membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat dan kolaborasi lintas sektor agar pertumbuhannya tidak berjalan sendiri.

“Perlu dukungan pemerintah dan kerja sama lintas sektor agar perkembangan industri kebugaran dan potensinya lebih signifikan perkembangan,” ujarnya.

Pada titik itu, masa depan industri kebugaran Indonesia bukan sekadar tentang semakin banyaknya gym yang berdiri. Pertumbuhannya akan ditentukan oleh seberapa jauh fitness dapat keluar dari citra olahraga eksklusif dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus terhubung dengan kesehatan preventif, wellness, pariwisata, dan ekonomi olahraga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article