Jakarta, FORTUNE —Industri kebugaran Indonesia tengah memasuki fase baru. Gym tak lagi sekadar menjadi tempat membentuk tubuh, tetapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang semakin diperhatikan masyarakat. Perubahan itu turut mendorong bermunculannya lebih banyak pemain dan memperluas pasar kebugaran di Tanah Air.
Perubahan itu terlihat dari meluasnya minat masyarakat terhadap latihan fisik setelah pandemi. Ketua Umum Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Jansen Ongko, melihat perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa industri kebugaran Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang semakin besar.
“Dulu itu lebih banyak komunitas lari, kemudian komunitas-komunitas olahraga prestasi biasa. Sekarang semua orang udah pada tahu yang namanya functional training, semua orang udah tahu yang namanya pentingnya kekuatan atau massa otot, jadi luar biasa,” ujar Jansen, Jumat (11/9), usai pembukaan 2nd Indonesia Fitness Expo yang digelar di SMESCO Jakarta pada 11–13 September 2026.
Geliat tersebut tercermin dari penyelenggaraan Indonesia Fitness Expo tahun ini. Jansen mengatakan jumlah peserta pameran telah mencapai hampir 70 exhibitors, naik sekitar 25 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Ekspansi pusat kebugaran menjadi salah satu indikator untuk membaca prospek bisnis pusat kebugaran. Ia melihat sejumlah merek gym lokal telah berkembang dengan puluhan cabang, menunjukkan bahwa pasar konsumen mulai semakin luas.
“Artinya konsumen yang jangkau luas, pemain pasar yang semakin besar, jadi bisa dibilang ini sangat-sangat menjanjikan,” ujarnya.
Perkembangan itu terjadi ketika kebutuhan masyarakat terhadap aktivitas fisik masih berpeluang besar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Sebaliknya, 62,6 persen berada dalam kategori cukup aktif.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan semata-mata ketiadaan minat. Sebanyak 48,7 persen responden menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan kurang melakukan aktivitas fisik. Alasan lain mencakup malas, usia lanjut, dan tidak memiliki teman untuk beraktivitas.
Namun, tantangannya adalah mengubah masyarakat yang belum aktif menjadi konsumen aktivitas fisik secara rutin. Jansen sendiri melihat gym bukan hanya sebagai tempat olahraga, tetapi bagian dari pendekatan kesehatan preventif. Ia menyebut pusat kebugaran sebagai semacam “rumah sehat”, karena penggunanya datang dalam kondisi sehat untuk mempertahankan atau meningkatkan kebugaran.
“Kalau rumah sakit itu rumah untuk orang sakit, sedangkan kalau gym mereka datang dalam keadaan sehat. Makanya rumah sehat dan bugar,” kata Jansen.
Jansen mengatakan kini lansia, anak-anak, hingga masyarakat awam mulai mengenal latihan kekuatan. Perubahan tersebut membuat pasar kebugaran tidak lagi terbatas pada konsumen yang mengejar bentuk tubuh tertentu.
Namun, persepsi di masyarakat bahwa keanggotaan pusat kebugaran relatif mahal masih menjadi hambatan. Padahal, masyarakat tidak selalu harus menggunakan pusat kebugaran premium untuk mendapatkan manfaat latihan kekuatan.
“Jadi kebanyakan itu karena narasinya bahwa gym itu mahal, jadi kesannya itu adalah olahraga orang eksklusif. Atau orang-orang yang have-lah kesannya. Padahal latihan menggunakan berat badan sendiri, seperti kalistenik atau latihan dengan trainer atau latihan mandiri di rumah dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau," katanya.
Meluasnya minat terhadap kebugaran juga menciptakan kebutuhan terhadap tenaga profesional. APKI saat ini mencatat lebih dari 6.000 pelatih kebugaran yang telah terdaftar. Meski demikian, Jansen mengatakan APKI belum memiliki data internal mengenai jumlah usaha pusat kebugaran di Indonesia. Asosiasi, kata dia, berencana melakukan riset dalam waktu dekat.
