Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Industri Sportswear Bergeser, Under Armour Perkuat Strategi di RI
Dok. Under Armour
  • Under Armour memperluas bisnis Indonesia melalui Erajaya Active Lifestyle, dengan 13 Brand House hingga 2026; Sports House Pondok Indah Mall dibuka pada 21 Agustus 2026.
  • Di tengah pergeseran sportswear ke komunitas dan gaya hidup, Under Armour meluncurkan kampanye COMMIT serta menggelar lari dan latihan komunitas untuk memperkuat kedekatan konsumen.
  • Kinerja global masih tertekan: pendapatan kuartal I FY2027 turun 3 persen menjadi US$1,10 miliar, sementara Asia-Pasifik turun 7 persen meski bisnis internasional tumbuh 5 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Persaingan industri sportswear memasuki fase ketika merek tidak cukup hanya mengandalkan produk dan performa. Kanal ritel, komunitas, aktivitas olahraga, dan gaya hidup semakin menjadi bagian dari cara perusahaan membangun hubungan dengan konsumen.

Perubahan itu terjadi ketika sejumlah pemain global menghadapi tekanan pertumbuhan dan mulai mencari sumber permintaan baru di luar pasar utama. Under Armour menjadi salah satu merek yang memperluas bisnis internasionalnya, termasuk di Indonesia. Bisnisnya berfokus pada produk performance, lari, dan sport style.

Di Indonesia, Under Armour dioperasikan oleh Erajaya Active Lifestyle sejak 2025. Hingga 2026, jaringan Under Armour Indonesia telah mencapai 13 Brand House di berbagai wilayah, terbaru Under Armour Sports House Pondok Indah Mall dibuka pada 21 Agustus 2026.

Ekspansi tersebut berlangsung ketika kinerja Under Armour secara global masih menghadapi tekanan. Pada kuartal I tahun fiskal 2027 yang berakhir 30 Juni 2026, pendapatan perusahaan mencapai US$1,10 miliar, turun 3 persen secara tahunan.

Pendapatan Amerika Utara, pasar terbesar Under Armour, turun 9 persen menjadi US$610 juta. Sebaliknya, pendapatan internasional tumbuh 5 persen menjadi US$490 juta. Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) menjadi salah satu pendorong dengan pertumbuhan 12 persen, sementara Asia-Pasifik masih turun 7 persen menjadi US$153 juta.

Angka tersebut memperlihatkan semakin pentingnya pasar internasional bagi Under Armour. Namun, pertumbuhan di luar Amerika Utara belum berlangsung merata. Asia-Pasifik, misalnya, masih menghadapi tekanan meskipun kawasan tersebut memiliki potensi pasar olahraga yang besar.

Untuk memperkuat kehadirannya di Indonesia, Under Armour tidak hanya mengandalkan perluasan jaringan ritel. Perusahaan juga membawa aktivitas olahraga ke dalam strategi lokal melalui komunitas dan kampanye.

Pendekatan tersebut menjadi latar peluncuran COMMIT di Indonesia pada 27 Agustus 2026. Kampanye ini mengangkat cerita dan momen ketika atlet memilih untuk terus menjalani olahraga yang mereka cintai. Alih-alih berfokus pada kemenangan, rekor, target fisik, atau pencapaian akhir, COMMIT menyoroti proses yang terjadi sebelum hasil tersebut tercapai. Mulai dari kembali ke lintasan, lapangan, gym, dan arena latihan hingga melakukan satu repetisi tambahan setelah latihan atau bangkit setelah terjatuh.

Chief Marketing Officer and APAC Managing Director di Under Armour, Simon Pestridge, mengatakan bahwa nilai paling bermakna dari olahraga tidak hanya ditemukan pada hasil akhir, tetapi dalam setiap momen ketika seorang atlet memilih untuk berkomitmen terhadapnya.

"Ketika seseorang benar-benar berkomitmen pada sesuatu yang mereka cintai, olahraga menjadi lebih dari sekadar cara untuk menantang diri sendiri. Olahraga menjadi kekuatan yang mendorong untuk terus bertumbuh," ujarnya, dalam keterangan tertulis kepada Fortune Indonesia, Kamis (10/9).

Pihaknya juga berharap dapat mendorong lebih banyak orang untuk melangkah ke lapangan, masuk ke gym, dan kembali menjalani proses. "Mereka dapat menemukan perubahan yang dapat diciptakan oleh olahraga melalui setiap bentuk komitmen dan ketekunan, ” ujarnya, menambahkan.

Narasi tersebut sejalan dengan perubahan cara generasi baru di Indonesia memandang olahraga. Aktivitas fisik tidak hanya berkaitan dengan pencapaian atau target pribadi, tetapi juga menjadi sarana membangun disiplin, terhubung dengan komunitas, melepaskan tekanan, dan berkembang sebagai individu.

Membangun kedekatan dengan konsumen

Perubahan perilaku olahraga di masyarakat memberi ruang bagi merek sportswear untuk membangun hubungan dengan konsumen di luar transaksi. Olahraga menjadi titik temu antara performa, gaya hidup, dan komunitas.

Di Indonesia, Under Armour menerjemahkan pendekatan tersebut melalui sejumlah aktivitas lokal. Perusahaan menggelar community run bersama SSYNC Run Community dan sesi latihan Social Hybrid bersama Social Run Community. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya membawa semangat #ProtectThisHouse ke dalam pengalaman konsumen melalui toko, kampanye lokal, serta komunitas yang digerakkan atlet.

COMMIT melibatkan tiga atlet dari cabang olahraga berbeda: Irjen Jayadi dari lari ultra-distance, petarung MMA asal Thailand Superbon, dan atlet voli Korea Selatan Kim Yeon Koung. Ketiganya digunakan untuk mengangkat tiga tema dalam kampanye, yakni “COMMIT TO THE LONG WAY HOME”, “COMMIT TO THAT SOUND”, dan “COMMIT TO CHANGING THE GAME”. Tiga cabang olahraga tersebut memberikan gambaran tentang beragam pengalaman dalam olahraga, dari lari jarak jauh hingga olahraga kompetitif.

Pendekatan berbasis komunitas dinilai menjadi semakin relevan bagi bisnis sportswear karena olahraga kini tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas fisik. Bagi sebagian konsumen, olahraga juga menjadi bagian dari rutinitas, identitas, dan ruang sosial.

Di balik strategi tersebut, Under Armour masih menghadapi tekanan dari sisi bisnis. Sepanjang tahun fiskal 2026, pendapatan perusahaan turun 4 persen menjadi US$4,97 miliar. Amerika Utara menjadi sumber tekanan terbesar dengan penurunan pendapatan 8 persen menjadi US$2,9 miliar. Sebaliknya, pendapatan internasional meningkat 4 persen menjadi US$2,1 miliar. Asia-Pasifik masih mencatat penurunan 5 persen sepanjang tahun fiskal tersebut. Namun, kawasan ini sempat tumbuh 13 persen pada kuartal IV fiskal 2026.

Pertumbuhan tersebut belum berlanjut pada awal tahun fiskal berikutnya. Pada kuartal I FY2027, pendapatan Asia-Pasifik kembali turun 7 persen. Di sisi lain, EMEA dan Amerika Latin masing-masing tumbuh 12 persen dan 8 persen.

Tekanan juga terlihat dari sejumlah kategori produk. Pendapatan pakaian turun 2 persen menjadi US$734 juta, alas kaki turun 8 persen menjadi US$245 juta, dan aksesori turun 4 persen menjadi US$96 juta. Dari sisi kanal penjualan, pendapatan direct-to-consumer turun 6 persen menjadi US$437 juta, sedangkan wholesale turun 2 persen menjadi US$638 juta.

Kondisi tersebut membuat penguatan merek menjadi bagian dari agenda bisnis perusahaan. Dalam laporan kinerja kuartal I tahun fiskal 2027 yang dirilis 7 Agustus 2026, Under Armour menyatakan tengah menyederhanakan bisnis dan mempertajam portofolio produk. Strategi tersebut mencakup brand storytelling yang lebih jelas dan penguatan posisi merek yang lebih premium.

Perluasan jaringan dan aktivitas komunitas pada akhirnya tetap perlu diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis. Bagi perusahaan sportswear, tantangannya bukan hanya mendapatkan perhatian konsumen, tetapi mempertahankan keterlibatan tersebut hingga menjadi pembelian dan loyalitas jangka panjang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article