Jakarta, FORTUNE - Samuel Sekuritas menyoroti penurunan bobot Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi tersebut berpeluang mengurangi aliran dana asing yang masuk pe pasar modal nasional.
Deputi Presiden Direktur Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, mengatakan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun signifikan. Apabila komposisi saham Indonesia kembali berkurang pada evaluasi MSCI periode berikutnya, maka bobot Indonesia di indeks global berpotensi menyusut lebih dalam.
Suria menjelaskan, bobot Indonesia di MSCI pada 2016 masih berada pada kisaran 3,5 persen dan sempat meningkat ketika sejumlah emiten berkapitalisasi besar masuk ke dalam indeks. Namun, tren tersebut kembali melemah dalam beberapa tahun terakhir hingga kini menjadi 0,57 persen.
"Saya sempat melakukan simulasi, banyak sekali saham yang kembali keluar pada evaluasi Agustus, bobot Indonesia bisa turun lagi. Ini menjadi hal serius," kata Suria dalam FGD bertajuk “Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi - Fiskal”, di Jakarta, Kamis (9/7).
Menurutnya, situasi ini akana menjadi tantangan bagi pasar modal Indonesia dalam menarik investasi asing, khususnya investasi jangka panjang. Sebab bobot suatu negara dalam indeks MSCI berpengaruh terhadap arus investasi global, terutama dana kelolaan yang menggunakan strategi investasi pasif.
“Jadi saham yang yang masuk ke situ (indeks MSCI), maka dana pasif akan ikut masuk. Sebaliknya, ketika saham keluar dari indeks, dana tersebut juga otomatis keluar," ujarnya.
Hal ini berbeda dengan manajer investasi aktif yang bisa membeli dan menjual saham berdasarkan analisis masing-masing, passive fund justru mengikuti komposisi indeks secara otomatis. Oleh karenanya, kata dia, banyak perusahaan terbuka berupaya memenuhi kriteria agar dapat masuk dalam indeks MSCI maupun FTSE Russell.
Selain penurunan bobot indeks, Suria juga menyoroti menyusutnya kapitalisasi pasar saham Indonesia yang turut memengaruhi porsi Indonesia di MSCI. Ia menyebut, total kapitalisasi saham yang menjadi bagian dari indeks global merosot dari sekitar US$113 miliar pada November 2025, menjadi sekitar US$57 miliar saat ini. Akibatnya, jumlah saham di Indonesia yang masuk kategori large cap dan mid cap dalam indeks MSCI juga ikut menyusut.
“Penurunannya sangat signifikan dari 18 tinggal 11, dan Agustus ini mungkin berkurang lagi” imbuhnya.
Suria berharap seluruh pemangku kepentingan dapat mendorong peningkatan kualitas emiten, likuiditas perdagangan, dan kapitalisasi pasar sehingga lebih banyak perusahaan Indonesia memenuhi kriteria indeks global.
