Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Emiten Grup Djarum, BACH, Target Pendapatan Rp3 T pada 2030 Pasca-IPO
Seremoni pencatatan IPO PT Bach Multi Global Tbk (BACH), Rabu (8/7).
  • PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menargetkan pendapatan Rp3 triliun dan laba bersih Rp401 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun pasca-IPO.
  • BACH fokus ekspansi bisnis power solution, proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, serta pengembangan energi baru dan digitalisasi layanan untuk memperkuat pendapatan jangka panjang.
  • Dari IPO senilai Rp271,83 miliar dengan oversubscribe 165 kali, sekitar 70 persen dana digunakan sebagai modal kerja pembelian genset dan 30 persen untuk pelunasan pinjaman bank.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Keberhasilan IPO BACH yang mencatat kelebihan permintaan hingga 165 kali mencerminkan kepercayaan tinggi investor terhadap prospek perusahaan. Dengan strategi ekspansi di sektor power solution dan telekomunikasi, serta fokus pada efisiensi dan digitalisasi, BACH menunjukkan kesiapan untuk tumbuh berkelanjutan sekaligus memperkuat struktur keuangan melalui pengelolaan modal yang hati-hati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Emiten Grup Djarum, PT Bach Multi Global Tbk (BACH), memperkirakan akan membukukan pendapatan Rp3 triliun pada 2030, dari Rp1,73 triliun pada 2025.

Sejalan dengan itu, laba bersih diproyeksi dapat bertumbuh menjadi Rp401 miliar, naik 158 persen dari 2025. Berdasarkan proyeksi manajemen, perseroan menetapkan pertumbuhan rata-rata sekitar 12 persen per tahun hingga 2030.

"Kami sangat optimis [dengan target tersebut] karena kami melihat dari segi pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun lini bisnis kami di power solution maupun telekomunikasi, yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Pada 2026 kami juga optimistis karena sudah melihat backlog dan pesanan yang kami catatkan," kata Direktur Utama BACH, Budi Kurniawan, dalam konferensi pers usai seremoni IPO di Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/7).

Sejalan dengan target tersebut, BACH akan mendorong ekspansi bisnis power solution, meningkatkan proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, serta menurunkan beban keuangan setelah IPO.

Strategi pertumbuhan itu juga akan difokuskan pada penambahan kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 MW per tahun. Selain itu, perseroan juga akan mengembangkan lini bisnis energi baru, memperkuat pendapatan berbasis kontrak jangka panjang, serta transformasi operasional melalui digitalisasi dan peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.

Dengan strategi tersebut, perseroan berkomitmen merealisasikan proyeksi pertumbuhan dalam lima tahun ke depan.

"Target kami di 2030 cukup moderat. Jika melihat tren pertumbuhan secara historis, pertumbuhan pada 2023 ke 2024, kami bertumbuh sekitar 39 persen (YoY), lalu 2024 ke 2025 tumbuh sekitar 25 persen," kata Direktur BACH, Hasby Jap.

Saat ini BACH telah memiliki rekam jejak lebih dari 20 tahun, mengelola lebih dari 40.000 site, mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi dari berbagai sektor strategis, termasuk perusahaan telekomunikasi, perbankan, energi, hingga pemerintah.

Perseroan telah melayani berbagai perusahaan besar seperti Grup Protelindo, PLN Group, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Huawei, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

BACH mengombinasikan bisnis penjualan dan penyewaan genset dengan jasa konstruksi serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.

Sebagai konteks, BACH menggelar IPO dengan menawarkan 615 juta saham baru atau 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Harga penawaran final IPO BACH adalah Rp442 per saham, sehingga memperoleh dana IPO sekitar Rp271,83 miliar.

IPO BACH mencatatkan kelebihan permintaan sekitar 165 kali.

Sekitar 70 persen dana IPO akan dialokasikan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset demi memenuhi permintaan penjualan maupun penyewaan. Kemudian, sekitar 30 persen sisa dana akan dipakai untuk membayar sebagian pinjaman bank sehingga memperkuat struktur permodalan dan menurunkan debt to ratio dari 1,3 kali menjadi 0,85 kali.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article