Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Global Bond Danantara Laris Manis, Investor AS Paling Dominan

Global Bond Danantara Laris Manis, Investor AS Paling Dominan
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani saat konferensi pers terkait update perkembangan surat utang Danantara, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6). (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Penerbitan global bond perdana BPI Danantara disambut antusias, dengan permintaan mencapai US$4,6 miliar sehingga nilai penerbitan dinaikkan dari target awal US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar.

  • Obligasi diterbitkan dalam dua tenor, lima tahun dengan kupon 5,35 persen dan 10 tahun dengan kupon 5,95 persen, lebih rendah dari perkiraan awal di atas 6 persen.

  • Investor asal Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar baik untuk tenor lima maupun 10 tahun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Penerbitan obligasi global (global bond) perdana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendapat sambutan dari investor internasional. Dari target awal penghimpunan dana US$1 miliar, permintaan yang masuk (book building) melonjak hingga US$4,6 miliar, mendorong Danantara meningkatkan nilai penerbitan menjadi US$1,5 miliar.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan tingginya minat investor tersebut menjadi bukti nyata kepercayaan pasar global terhadap Indonesia maupun Danantara sebagai lembaga pengelola investasi negara.

“Apa yang Danantara sudah lakukan, alhamdulillah saya boleh laporkan responsnya itu sangat baik,” kata Rosan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan yang disiarkan secara vitual, Senin (15/6).

Rosan menyatakan sebelum menerbitkan obligasi global, Danantara melakukan roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, Boston, London hingga New York. Kegiatan tersebut digelar setelah Danantara beroleh peringkat investasi (investment grade) dari Moody’s, S&P, dan Fitch yang setara dengan sovereign rating pemerintah Indonesia.

Selama roadshow, Danantara bertemu dengan sekitar 122 investor dari berbagai negara untuk memaparkan strategi investasi dan arah kebijakan lembaga tersebut.

Tak hanya oversubscribed lebih dari tiga kali lipat, tingginya minat investor juga menekan biaya pendanaan. Rosan mengungkapkan, obligasi tenor lima tahun senilai US$750 juta diterbitkan dengan kupon 5,35 persen, sementara obligasi tenor 10 tahun senilai US$750 juta memiliki tingkat bunga 5,95 persen.

Menurutnya, angka tersebut lebih rendah dari perkiraan awal para penjamin emisi yang sempat memproyeksikan imbal hasil di atas 6 persen, bahkan mendekati 7 persen, mengingat kondisi pasar keuangan saat proses penerbitan berlangsung.

“Kalau investor tidak percaya, tentu mereka akan meminta yield premium yang sangat tinggi. Faktanya tidak demikian, justru yield yang diperoleh sangat kompetitif,” kata Rosan.

Ia menambahkan, dana hasil penerbitan obligasi telah ditandatangani pada 11 Juni dan dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni. Dengan demikian, keberhasilan penerbitan obligasi tersebut dinilai bukan sekadar komitmen di atas kertas, melainkan investasi nyata dari pasar internasional.

Komposisi investor menunjukkan dominasi pembeli dari Amerika Serikat dan kawasan Eropa. Untuk obligasi tenor lima tahun, sekitar 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia.

Sementara itu, untuk tenor 10 tahun, porsi investor Amerika Serikat mencapai 52 persen, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 31 persen, serta Asia 17 persen.

Komposisi tersebut berbeda dari tren historis penerbitan obligasi Indonesia yang umumnya lebih banyak diminati investor Asia. Menurut Rosan, hal itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor Barat terhadap prospek ekonomi Indonesia semakin menguat.

Ke depan, Danantara bahkan membuka peluang menerbitkan obligasi dengan tenor lebih panjang hingga 30 tahun, seiring besarnya minat investor global. Rosan menilai antusiasme tersebut mencerminkan keyakinan pasar terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia.

“Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia sangat tinggi. Kami lebih senang berbicara dengan data, statistik, dan fakta, dan fakta menunjukkan permintaan terhadap global bond Danantara sangat kuat,” ujarnya. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More