Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Kripto Kian Dilirik Anak Muda Indonesia? Ini Alasannya

Mengapa Kripto Kian Dilirik Anak Muda Indonesia? Ini Alasannya
ilustrasi kripto (pexels.com/Worldspectrum)
Intinya Sih
  • Laporan IMGR 2027 menunjukkan kripto makin populer di kalangan Milenial dan Gen Z Indonesia karena akses mudah, modal kecil, serta fleksibilitas tinggi dalam mengatur keuangan pribadi.
  • Data mencatat sekitar 21,63 juta pengguna kripto di Indonesia per Oktober 2024, dengan 75 persen berasal dari usia 18–35 tahun, menandakan integrasi kuat aset digital di arus utama finansial.
  • Laporan juga menyoroti risiko besar seperti fluktuasi harga, penipuan investasi, dan keamanan platform yang menuntut generasi muda lebih waspada dalam mengelola aset digital mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Aset kripto semakin mendapat tempat di kalangan generasi muda Indonesia. Temuan tersebut dipublikasikan dalam peluncuran Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027 yang dilakukan oleh IDN pada ajang Indonesia Summit 2026. Konferensi bertema “The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age” itu berlangsung di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17–18 Juni 2026 dan mempertemukan berbagai pemimpin serta tokoh nasional untuk membahas masa depan Indonesia di era digital.

Survei yang disusun oleh IDN Research Institute itu menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah Indonesia, termasuk Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Penelitian tersebut bertujuan memetakan aspirasi, perilaku, serta nilai-nilai yang memengaruhi keputusan generasi muda.

Laporan menunjukkan meningkatnya pemanfaatan aset kripto dan instrumen keuangan alternatif oleh kelompok Milenial dan Gen Z sebagai respons terhadap tantangan dan peluang dalam sistem keuangan saat ini. Tren ini bukan didorong oleh pergeseran ideologi menuju sistem keuangan yang lebih terdesentralisasi. Sebaliknya, anak muda memandang instrumen alternatif sebagai cara yang lebih relevan untuk mengelola keuangan di tengah keterbatasan akses terhadap sejumlah produk keuangan konvensional.

Menurut laporan itu, keputusan generasi muda untuk menggunakan instrumen seperti kripto berangkat dari penilaian mereka terhadap efektivitas berbagai pilihan investasi yang tersedia. Selain itu, mereka juga mencari fleksibilitas dan kontrol yang lebih besar dalam mengatur aset serta keuangan pribadi.

Data regulasi yang dikutip dalam laporan menunjukkan jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia mencapai sekitar 21,63 juta orang per Oktober 2024. Menariknya, sekitar 75 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 18 hingga 35 tahun.

Besarnya kontribusi kelompok usia muda tersebut menunjukkan bahwa kripto semakin terintegrasi ke dalam arus utama aktivitas keuangan masyarakat. Instrumen ini tidak lagi dipandang sebagai alternatif di pinggiran pasar, melainkan telah menjadi bagian dari strategi pengelolaan keuangan generasi muda.

Laporan IMGR 2027 mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong tingginya adopsi kripto, antara lain kemudahan akses, kebutuhan modal awal yang relatif rendah, serta proses transaksi yang cepat. Karakteristik tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan sebagian instrumen keuangan konvensional yang oleh sebagian masyarakat masih dianggap rumit dan kurang transparan.

Meski demikian, meningkatnya penggunaan aset kripto tidak berarti para penggunanya mengabaikan risiko. Pasar kripto tetap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari volatilitas harga hingga dampak gejolak ekonomi dan politik global. Sebagai contoh, laporan CoinShares yang sebelumnya dikutip Fortune Indonesia menunjukkan produk investasi kripto masih membukukan arus masuk dana bersih sebesar US$619 juta dalam sepekan, meskipun pasar dibayangi ketegangan geopolitik yang berkaitan dengan Iran.

Risiko tetap membayangi

upload_48d249ff0d6ca4031b4446b820b4f64f_089b6211-9d02-459f-ab70-667e6f8de3f8.jpg
Dok. IDN

Selain peluang, laporan tersebut juga menyoroti berbagai risiko yang melekat pada ekosistem kripto. Fluktuasi harga yang tajam, perubahan regulasi, hingga aspek keamanan platform menjadi sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan investor.

Kondisi itu menunjukkan bahwa semakin besar kendali yang dimiliki individu atas asetnya, semakin besar pula tanggung jawab dan risiko yang harus dihadapi.

Laporan tersebut mencontohkan kasus yang melibatkan figur publik di bidang edukasi kripto, Timothy Ronald, yang dilaporkan kepada aparat penegak hukum pada awal 2026 terkait dugaan penipuan investasi kripto. Hingga Mei 2026, proses penyelidikan kasus tersebut masih berlangsung.

Menurut laporan, risiko di industri kripto tidak hanya berasal dari pergerakan harga aset. Faktor lain seperti kredibilitas pihak ketiga, kesenjangan informasi, hingga potensi penyalahgunaan kepercayaan juga menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.

Kasus tersebut bukan yang pertama. Sebelumnya, aparat penegak hukum juga mengungkap jaringan penipuan kripto yang mengakibatkan kerugian hingga Rp105 miliar dan melibatkan puluhan korban. Temuan itu memperlihatkan bahwa risiko dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah partisipan di pasar.

Dalam konteks yang lebih luas, Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027 menilai generasi muda Indonesia tengah berada pada fase yang menuntut kemampuan beradaptasi tinggi. Di tengah akses terhadap instrumen keuangan konvensional yang dinilai semakin terbatas, kebutuhan untuk membangun ketahanan dan stabilitas finansial tetap menjadi prioritas utama. Dalam kondisi tersebut, kripto dipandang sebagai salah satu alternatif yang menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More