Jakarta, FORTUNE – Aset kripto semakin mendapat tempat di kalangan generasi muda Indonesia. Temuan tersebut dipublikasikan dalam peluncuran Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027 yang dilakukan oleh IDN pada ajang Indonesia Summit 2026. Konferensi bertema “The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age” itu berlangsung di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17–18 Juni 2026 dan mempertemukan berbagai pemimpin serta tokoh nasional untuk membahas masa depan Indonesia di era digital.
Survei yang disusun oleh IDN Research Institute itu menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah Indonesia, termasuk Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Penelitian tersebut bertujuan memetakan aspirasi, perilaku, serta nilai-nilai yang memengaruhi keputusan generasi muda.
Laporan menunjukkan meningkatnya pemanfaatan aset kripto dan instrumen keuangan alternatif oleh kelompok Milenial dan Gen Z sebagai respons terhadap tantangan dan peluang dalam sistem keuangan saat ini. Tren ini bukan didorong oleh pergeseran ideologi menuju sistem keuangan yang lebih terdesentralisasi. Sebaliknya, anak muda memandang instrumen alternatif sebagai cara yang lebih relevan untuk mengelola keuangan di tengah keterbatasan akses terhadap sejumlah produk keuangan konvensional.
Menurut laporan itu, keputusan generasi muda untuk menggunakan instrumen seperti kripto berangkat dari penilaian mereka terhadap efektivitas berbagai pilihan investasi yang tersedia. Selain itu, mereka juga mencari fleksibilitas dan kontrol yang lebih besar dalam mengatur aset serta keuangan pribadi.
Data regulasi yang dikutip dalam laporan menunjukkan jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia mencapai sekitar 21,63 juta orang per Oktober 2024. Menariknya, sekitar 75 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 18 hingga 35 tahun.
Besarnya kontribusi kelompok usia muda tersebut menunjukkan bahwa kripto semakin terintegrasi ke dalam arus utama aktivitas keuangan masyarakat. Instrumen ini tidak lagi dipandang sebagai alternatif di pinggiran pasar, melainkan telah menjadi bagian dari strategi pengelolaan keuangan generasi muda.
Laporan IMGR 2027 mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong tingginya adopsi kripto, antara lain kemudahan akses, kebutuhan modal awal yang relatif rendah, serta proses transaksi yang cepat. Karakteristik tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan sebagian instrumen keuangan konvensional yang oleh sebagian masyarakat masih dianggap rumit dan kurang transparan.
Meski demikian, meningkatnya penggunaan aset kripto tidak berarti para penggunanya mengabaikan risiko. Pasar kripto tetap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari volatilitas harga hingga dampak gejolak ekonomi dan politik global. Sebagai contoh, laporan CoinShares yang sebelumnya dikutip Fortune Indonesia menunjukkan produk investasi kripto masih membukukan arus masuk dana bersih sebesar US$619 juta dalam sepekan, meskipun pasar dibayangi ketegangan geopolitik yang berkaitan dengan Iran.
