Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pendapatan TINS Meroket 144 Persen Ditopang Lonjakan Harga Timah
Produksi timah PT Timah Tbk (TINS), anak usaha MIND ID. (dok. MIND ID)
  • PT Timah membukukan pendapatan Rp16,15 triliun hingga September 2026, naik 144 persen, ditopang kenaikan harga jual timah rata-rata 52 persen dan volume penjualan.
  • Laba bersih TINS mencapai rekor Rp4,12 triliun, melonjak 584 persen; laba usaha naik 594 persen menjadi Rp5,60 triliun, disertai penguatan margin profitabilitas.
  • Produksi bijih timah naik 55 persen dan penjualan logam timah tumbuh 72 persen menjadi 16.304 ton; ekspor menyumbang 96 persen volume, terutama ke Cina.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — PT Timah Tbk (TINS) membukukan lonjakan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026, yang ditandai dengan pendapatan usaha Rp16,15 triliun hingga September 2026. Dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,61 triliun, itu artinya peningkatan 144 persen.

Kenaikan ditopang terutama oleh lonjakan harga jual rata-rata logam timah dan peningkatan volume penjualan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasinya, harga jual rata-rata logam timah TINS adalah US$51.011 per metrik ton pada Januari–September 2026. Kenaikannya 52 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$33.596 per metrik ton.

Kenaikan harga jual tersebut sejalan dengan penguatan harga timah global. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, harga rata-rata Cash Settlement Price (CSP) timah di London Metal Exchange (LME) mencapai US$51.636,61 per metrik ton, meningkat 57,55 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$32.775,58 per metrik ton.

Tingginya harga timah global didukung oleh keterbatasan pasokan serta prospek permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, dan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

"Pencapaian laba bersih sebesar Rp4,12 triliun pada [sembilan bulan pertama] 2026 merupakan rekor tertinggi perseroan untuk periode sembilan bulan," kata Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Widiyantoro, dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba usaha TINS melonjak 594 persen menjadi Rp5,60 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp807,25 miliar.

EBITDA meningkat 323 persen menjadi Rp6,18 triliun dari sebelumnya Rp1,46 triliun.

Sementara itu, laba bersih perseroan mencapai Rp4,12 triliun, melesat 584 persen dibandingkan dengan periode Januari–September 2025 yang sebesar Rp602,42 miliar.

Penguatan kinerja tersebut turut tecermin pada sejumlah indikator profitabilitas.

Margin laba usaha (operating margin) meningkat menjadi 34,67 persen dari sebelumnya 12,22 persen. Margin EBITDA naik menjadi 38,26 persen dari 22,08 persen, sedangkan margin laba bersih (net profit margin) mencapai 25,52 persen, dibandingkan 9,12 persen pada periode sama pada tahun lalu.

Produksi dan penjualan ikut meningkat

Selain terdorong kenaikan harga, kinerja keuangan TINS juga ditopang peningkatan produksi dan volume penjualan logam timah.

Sepanjang Januari–September 2026, produksi bijih timah perseroan mencapai 18.883 ton Sn, meningkat 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12.190 ton Sn.

Produksi logam timah juga meningkat 49 persen menjadi 16.190 metrik ton Sn, dari sebelumnya 10.855 metrik ton Sn.

Peningkatan produksi bijih timah didukung optimalisasi kegiatan penambangan darat dan laut. Pada penambangan darat, perseroan meningkatkan produktivitas melalui penambahan unit operasi tambang, pembukaan blok rencana kerja di sejumlah lokasi, serta optimalisasi pengeboran pandu.

Sementara itu, pada penambangan laut TINS mengoptimalkan kinerja Kapal Keruk (KK) dan Kapal Isap Produksi (KIP), sekaligus meningkatkan pengawasan dan produktivitas Ponton Isap Produksi (PIP).

Perseroan juga memperkuat kegiatan eksplorasi melalui pengoperasian kapal bor di sejumlah wilayah produksi utama. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan tingkat keyakinan terhadap sumber daya dan cadangan timah sebagai dasar perencanaan kegiatan pertambangan.

Volume penjualan logam timah mencapai 16.304 metrik ton pada sembilan bulan pertama 2026, meningkat 72 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 9.469 metrik ton.

Peningkatan tersebut didukung optimalisasi pengelolaan persediaan logam timah untuk memenuhi permintaan pasar.

Pasar ekspor masih menjadi tumpuan utama penjualan TINS dengan kontribusi 96 persen dari total volume penjualan. Sementara itu, pasar domestik hanya menyumbang sekitar 4 persen.

Enam negara tujuan ekspor terbesar perseroan meliputi Cina dengan kontribusi 30 persen, Korea Selatan 12 persen, India 11 persen, Jepang 9 persen, Belanda 8 persen, dan Singapura 7 persen. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article