Jakarta, FORTUNE — PT Timah Tbk (TINS) membukukan lonjakan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026, yang ditandai dengan pendapatan usaha Rp16,15 triliun hingga September 2026. Dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,61 triliun, itu artinya peningkatan 144 persen.
Kenaikan ditopang terutama oleh lonjakan harga jual rata-rata logam timah dan peningkatan volume penjualan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasinya, harga jual rata-rata logam timah TINS adalah US$51.011 per metrik ton pada Januari–September 2026. Kenaikannya 52 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$33.596 per metrik ton.
Kenaikan harga jual tersebut sejalan dengan penguatan harga timah global. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, harga rata-rata Cash Settlement Price (CSP) timah di London Metal Exchange (LME) mencapai US$51.636,61 per metrik ton, meningkat 57,55 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$32.775,58 per metrik ton.
Tingginya harga timah global didukung oleh keterbatasan pasokan serta prospek permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, dan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Pencapaian laba bersih sebesar Rp4,12 triliun pada [sembilan bulan pertama] 2026 merupakan rekor tertinggi perseroan untuk periode sembilan bulan," kata Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Widiyantoro, dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba usaha TINS melonjak 594 persen menjadi Rp5,60 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp807,25 miliar.
EBITDA meningkat 323 persen menjadi Rp6,18 triliun dari sebelumnya Rp1,46 triliun.
Sementara itu, laba bersih perseroan mencapai Rp4,12 triliun, melesat 584 persen dibandingkan dengan periode Januari–September 2025 yang sebesar Rp602,42 miliar.
Penguatan kinerja tersebut turut tecermin pada sejumlah indikator profitabilitas.
Margin laba usaha (operating margin) meningkat menjadi 34,67 persen dari sebelumnya 12,22 persen. Margin EBITDA naik menjadi 38,26 persen dari 22,08 persen, sedangkan margin laba bersih (net profit margin) mencapai 25,52 persen, dibandingkan 9,12 persen pada periode sama pada tahun lalu.
