Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Semarak Saham IPO Pertengahan Tahun, 6 Emiten Baru di BEI
ilustrasi saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Awal semester II 2026 diwarnai enam IPO baru di BEI, menandai gelombang pencatatan saham terbesar sejak awal tahun meski pasar masih menghadapi tantangan pemulihan.

  • Tren IPO tahunan tetap melambat dengan hanya 26 emiten sepanjang 2025, sementara OJK mencatat total penghimpunan dana Rp112,67 triliun.

  • Sektor kesehatan dan konsumer mendominasi minat investor dalam gelombang IPO terbaru.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Aktivitas saham IPO pertengahan tahun kembali menggeliat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal semester II 2026. Dalam sepekan, enam perusahaan dijadwalkan mencatatkan saham perdana, menandakan gelombang IPO terbesar sejak awal tahun.

Lonjakan jumlah emiten baru muncul di tengah pasar saham yang masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, pelaku pasar masih mencermati peningkatan aktivitas IPO tersebut mencerminkan pemulihan pasar modal atau lebih didorong oleh kebutuhan korporasi mencari alternatif pendanaan.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat masih terdapat sejumlah perusahaan yang berada dalam antrean penawaran umum perdana.

Enam emiten ramaikan IPO awal semester II

Parade IPO pada pekan kedua Juli menghadirkan enam emiten dari berbagai sektor. PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) lebih dulu melantai di BEI pada 7 Juli 2026.

Sehari berselang, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menyusul mencatatkan saham perdana pada 8 Juli 2026. Kemudian, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) pada 9 Juli 2026 serta PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) dijadwalkan melantai di BEI pada 10 Juli 2026.

BACH melepas 615 juta saham atau 15,06 persen modal ditempatkan dengan harga IPO Rp442 per saham dan menghimpun dana Rp271,8 miliar.

Perseroan bergerak di bidang penyewaan generator industri dan setelah IPO direncanakan mengalami perubahan pengendali melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), yang merupakan bagian dari Djarum Group.

Sementara itu, EMMI yang bergerak di industri alat kesehatan menawarkan 522,8 juta saham atau 30 persen dari modal ditempatkan dengan harga Rp470 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan memperoleh dana sekitar Rp245,7 miliar.

Pada penjatahan pasti, investor dengan nilai pemesanan di bawah Rp100 juta rata-rata hanya memperoleh satu hingga dua lot saham terhadap kedua emiten tersebut.

IPO meningkat, tetapi tren tahunan melambat

Meningkatnya jumlah pencatatan saham pada awal semester II belum mengubah tren perlambatan IPO dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah perusahaan yang melantai di bursa terus menurun, dari 79 emiten pada 2023 menjadi 41 emiten pada 2024, lalu turun lagi menjadi 26 emiten sepanjang 2025.

Dengan realisasi hingga awal Juli 2026, target BEI menghadirkan 50 perusahaan tercatat baru tahun ini masih menghadapi tantangan.

Di sisi regulator, OJK mencatat hingga Juni 2026 terdapat tujuh perusahaan yang telah menawarkan saham kepada publik dengan total penghimbunan dana mencapai Rp2,16 triliun, meski belum seluruhnya resmi tercatat di BEI.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan masih terdapat dua perusahaan yang berada dalam antrean IPO dengan potensi penghimpunan dana sekitar Rp140 miliar.

Secara keseluruhan, OJK juga mencatat terdapat 11 rencana penawaran umum di pasar modal yang masih berada dalam pipeline dengan estimasi nilai penggalangan dana mencapai Rp15,84 triliun.

"Hingga Juni 2026, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp112,67 triliun dan masih terdapat 11 rencana penawaran umum di dalam pipeline," ujar Hasan dalam konferensi pers, Selasa (7/7).

Meski IPO mulai bertambah, penghimpunan dana korporasi sepanjang tahun ini uga masih didominasi penerbitan surat utang. Dari total penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp112,67 triliun, sekitar Rp89,51 triliun berasal dari penerbitan obligasi dan sukuk, sedangkan kontribusi IPO baru sekitar Rp2,16 triliun.

Emiten sektor kesehatan dan konsumer masih diminati

Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, sektor kesehatan dan barang konsumsi masih menjadi pilihan utama perusahaan yang melaksanakan IPO.

Gelombang IPO semester II diisi oleh sejumlah emiten kesehatan seperti EMMI, JECX, dan PRDL. Tingginya minat investor terhadap sektor tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap layanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, IPO JELI dinilai memperoleh respons positif karena memiliki posisi yang kuat di industri makanan dan minuman. Khususnya pada produk jeli serta menawarkan valuasi yang kompetitif dibandingkan perusahaan sejenis.

Selain sektor kesehatan dan konsumer, pipeline IPO pada paruh kedua 2026 juga diperkirakan akan diisi perusahaan dari sektor teknologi dan media. Namun, pelaksanaannya masih mempertimbangkan kondisi pasar, valuasi, serta kesiapan masing-masing calon emiten.

FAQ seputar saaham IPO pertengahan tahun

Berapa jumlah saham IPO pertengahan tahun 2026?

Sebanyak enam perusahaan dijadwalkan melantai di BEI pada 7–10 Juli 2026.

Berapa dana IPO yang telah dihimpun hingga Juni 2026?

OJK mencatat dana IPO yang telah dihimpun mencapai sekitar Rp2,16 triliun.

Sektor apa yang paling banyak meramaikan IPO semester II?

Sektor kesehatan dan barang konsumsi menjadi sektor yang paling dominan.

Berapa jumlah rencana penawaran umum yang masih berada di pipeline OJK?

Masih terdapat 11 rencana penawaran umum dengan potensi penghimpunan dana Rp15,84 triliun.

Editorial Team

Related Article