Meningkatnya jumlah pencatatan saham pada awal semester II belum mengubah tren perlambatan IPO dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah perusahaan yang melantai di bursa terus menurun, dari 79 emiten pada 2023 menjadi 41 emiten pada 2024, lalu turun lagi menjadi 26 emiten sepanjang 2025.
Dengan realisasi hingga awal Juli 2026, target BEI menghadirkan 50 perusahaan tercatat baru tahun ini masih menghadapi tantangan.
Di sisi regulator, OJK mencatat hingga Juni 2026 terdapat tujuh perusahaan yang telah menawarkan saham kepada publik dengan total penghimbunan dana mencapai Rp2,16 triliun, meski belum seluruhnya resmi tercatat di BEI.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan masih terdapat dua perusahaan yang berada dalam antrean IPO dengan potensi penghimpunan dana sekitar Rp140 miliar.
Secara keseluruhan, OJK juga mencatat terdapat 11 rencana penawaran umum di pasar modal yang masih berada dalam pipeline dengan estimasi nilai penggalangan dana mencapai Rp15,84 triliun.
"Hingga Juni 2026, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp112,67 triliun dan masih terdapat 11 rencana penawaran umum di dalam pipeline," ujar Hasan dalam konferensi pers, Selasa (7/7).
Meski IPO mulai bertambah, penghimpunan dana korporasi sepanjang tahun ini uga masih didominasi penerbitan surat utang. Dari total penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp112,67 triliun, sekitar Rp89,51 triliun berasal dari penerbitan obligasi dan sukuk, sedangkan kontribusi IPO baru sekitar Rp2,16 triliun.