MARKET

Samcro Hyosung Adilestari IPO, Ini Rencana Bisnisnya

Saham ACRO menguat 34 persen di hari debut, Kamis (11/1).

Samcro Hyosung Adilestari IPO, Ini Rencana BisnisnyaPT Samcro Hyosung Adilestari Tbk (ACRO) pada Kamis (11/1).
11 January 2024

Jakarta, FORTUNE - Saham PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk (ACRO) melesat 34,26 persen di sesi perdagangan pertama pada hari debutnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/1). Bahkan bertahan di level itu hingga awal sesi kedua.

Berdasarkan data IDX Mobile, harga saham ACRO melesat menjadi Rp145 per saham, dari harga penawaran Rp108 per saham. Volume transaksinya mencapai 466 juta saham. Sementara itu, nilai transaksinya adalah Rp63,8 miliar dengan frekuensi transaksi 41.100 kali. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp503,1 miliar.

Samcro Hyosung Adilestari didirikan pada Juli 1989. Perseroan memiliki bisnis di bidang industri dan perdagangan yang memproduksi bermacam produk, berupa perekat hook dan loop/magic tape (pita pengait rekat) dan webbing tape.

Lewat IPO, perseroan melepas hampir 693,83 juta saham atau 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Perseroan pun mengantongi dana IPO senilai Rp74,93 miliar.

Sekitar 30 persen dana itu akan perseroan gunakan untuk membeli mesin, yang terdiri dari 60 persen demi pengembangan produk baru, sedangkan 40 persen pembelian mesin demi peningkatan dan otomatisasi proses produksi.

Direktur Utama Samcro Hyosung Adilestari, Chung Tae-sung mengatakan penggantian sejumlah mesin di pabrik mulai dilakukan demi meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

"Dengan mengganti mesin menjadi baru, efisiensi produksi dan biayanya pasti lebih besar. Kami sudah memesan mesin ke Swiss," ujarnya di Main Hall BEI, setelah sesi pencatatan saham perdana ACRO, Kamis (11/1).

Sayangnya, ia enggan menjabarkan detail persentase pertumbuhan produksi dan efisiensi tersebut.

Selain untuk membeli mesin baru, 9,84 persen dana IPO pun akan digunakan untuk membayar pinjaman dolar Amerika Serikat (AS) dari PT Bank Woori Saudara 1906 Tbk. Lalu, 15 persen digunakan untuk dua kebutuhan yang mencakup: 

  • 80,76 persen untuk menyewa gedung dan kantor di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  • 19,24 persen untuk membeli kendaraan operasional dan peralatan gudang serta kantor di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sementara itu, sisa dana IPO akan perseroan gunakan sebagai modal kerja, termasuk untuk membeli kebutuhan bahan baku dan membiayai kegiatan operasional, di antaranya: biaya pemasaran, SDM, promosi, desain kemasan, perbaikan, pemeliharaan mesin dan bangunan, serta biaya overhead pabrik.

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.