Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Soal Keputusan FTSE, Analis: Sentimen Lebih Bersifat Teknis-Sementara

Soal Keputusan FTSE, Analis: Sentimen Lebih Bersifat Teknis-Sementara
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih

Dalam pengumuman resmi, FTSE memutuskan menunda evaluasi indeks saham Indonesia untuk menghindari potensi distorsi indeks karena ketidakpastian data dan risiko penurunan likuiditas selama masa transisi kebijakan pasar modal. Selama periode penundaan, FTSE Russell membekukan semua perubahan berbasis review indeks (termasuk penambahan dan penghapusan konstituen, perubahan segmen kapitalisasi, serta penyesuaian bobot akibat aksi korporasi tertentu).

Lebih lanjut, aksi korporasi non-kapital seperti pembagian dividen, pemecahan saham, konsolidasi saham, dan delisting karena merger atau suspensi permanen tetap diproses sesuai metodologi indeks yang berlaku. "Kebijakan ini bersifat teknis dan sementara, serta tidak berkaitan dengan klasifikasi status pasar saham Indonesia dalam kerangka Equity Country Classification FTSE," demikian catatan Phintraco Sekuritas, dikutip dari pengumuman FTSE.

Dus, tim riset Phintraco Sekuritas menilai, arus dana berbasis indeks FTSE akan cenderung tertahan dalam jangka pendek. Namun stabilitas kepemilikan asing relatif terjaga karena tidak adanya forced rebalancing selama periode penundaan.

Pengamat Pasar Modal dan Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan, risiko penurunan status negara tidak melekat pada keputusan penundaan evaluasi indeks FTSE tersebut, sehingga sentimen negatif lebih bersifat teknis dan sementara. Kebijakan itu dinilai berimplikasi pada tertahannya katalis teknikal yang biasanya muncul dari hasil evaluasi indeks.

"Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan sikap defensif pelaku pasar dan mendorong volatilitas berbasis sentimen, bukan fundamental," kata Hendra, Senin.

Sejalan dengan sentimen itu, IHSG ditutup menguat 1,24 persen ke harga 8.131,74 pada Selasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - FTSE Russell menunda evaluasi indeks Maret 2026 untuk Indonesia, sejalan dengan adanya upaya reformasi pasar modal Indonesia oleh otoritas bursa, khususnya terkait free float.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan FTSE pada Senin (9/2). Menurutnya, kekhawatiran FTSE sama dengan penyedia indeks global MSCI, yakni terkait transparansi dan granularisasi data investor.

"FTSE memberikan dukungan atas 3 rencana aksi BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Self-Regulatory Organization (SRO). Mereka menekankan pada implementasinya agar tepat waktu sesuai dengan timeline yang telah disampaikan," kata Jeffrey kepada pers, Selasa (10/2).

Sebagai konteks, 3 rencana aksi tersebut, meliputi:

  • Penambahan keterbukaan informasi pemegang saham 1 persen ke atas oleh para emiten, yang implementasinya dimulai pada Februari 2026.
  • Pemerincian klasifikasi investor dari 9 tipe menjadi 28, dengan target implementasi akhir Maret 2026.
  • Revisi batas minimal free float saham menjadi 15 persen (dari 7,5 persen) secara bertahap, yang ditarget pada akhir Maret 2026.

Besok (11/2), tim satuan tugas akselerasi pemenuhan kekhawatiran indeks global otoritas dan manajemen bursa juga akan kembali berdiskusi dengan tim MSCI terkait pelaksanaan teknis dari proposal tersebut. Itu merupakan langkah tindak lanjut dari penyampaian proposal tersebut pada Kamis (5/2).

Pandangan analis: bersifat sementara

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More