Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Hengky Adinata Remora Cut Loss Rp60 M Saat IHSG Kebakaran Karena MSCI

DRA_3886 copy.jpg
Founder Remora Trader, Hengky Adinata di Fortune Indonesia Summit 2026, Kamis (12/2). (Fortune Indonesia/IDN)

Jakarta, FORTUNE - Trader dan Pendiri Remora Trader, Hengky Adinata, mengaku mesti melakukan cut loss hingga Rp60 miliar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 'kebakaran', akibat pengumuman pembekuan sementara penyesuaian indeks saham Indonesia pada akhir Januari 2026.

Menurutnya, saat MSCI mengumumkan hal itu, dalam portofolio, ia masih memiliki saham-saham bagger atau saham yang harganya naik berkali-kali lipat dari harga pembelian awal dalam jangka panjang. Cut loss sendiri mengacu pada keputusan menjual saham di harga lebih rendah dari harga beli, dengan tujuan membatasi kerugian.

"Tapi tiba-tiba MSCI crash, mau tidak mau saya cut loss semua. Karena saya tahu kalau ini fear-nya sudah gede banget," katanya di sesi Inside the Smart Money: Momentum. Conviction. Execution di Fortune Indonesia Summit 2026, dikutip Jumat (13/2).

Pemesanan rata-rata cocok dengan harga penjualan di hari pertama pengumuman MSCI. Puluhan miliar rupiah lenyap dari portofolionya.

Namun, ia tak mau begitu ambil pusing soal itu. Lagipula, bukan hanya dirinya yang mengalami hal serupa. Setelah menelepon kenalan-kenalannya di bidang serupa, bahkan mereka yang sudah berpengalaman puluhan tahun, semua juga terdampak putusan MSCI.

"Semua kena. Bahkan mereka [fund, pelaku pasar modal, dsb] waktu itu tidak bisa cut loss, karena tidak ada likuiditas, sedangkan saya, luckily bisa. Dari segi jumlah uangnya, saya saat itu tidak ada stresnya sama sekali," katanya.

Waktu itu, yang justru membuatnya stres saat itu adalah posisinya sebagai pucuk komunitas saham miliknya, Remora Trader. Menurutnya, tidak semua member komunitasnya dapat melakukan cut loss sepertinya karena kondisi dan latar belakang mereka yang berbeda-beda.

Misal, dari segi akses akun trading yang belum tentu berstatus prioritas, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk menjual saham di tengah market crash seperti itu. "Karena ada beberapa akses sekuritas yang untuk prioritas. Namanya prioritas pasti sedikit orangnya," ujarnya.

Kendati demikian, ia tetap mengumumkan langkahnya untuk melakukan cut loss kepada komunitasnya. Sama seperti prinsipnya jika ingin membeli saham.

"Ketika saya beli, saya selalu ngomong di hari yang sama, jam yang sama, jadi sama-sama beli," katanya.

Keputusannya untuk melakukan cut loss bukan berarti ia menyerah dan berhenti melakukan trading di tengah kondisi itu. Ia justru bersiap untuk melakukan pembelian kembali di tengah koreksi harga saham yang terjadi akibat keputusan MSCI.

Sebagai konteks, MSCI mengumumkan pemberlakukan pembekuan sementara terhadap hasil evaluasi saham-saham Indonesia pada Rabu (28/1) dini hari Waktu Indonesia Barat (WIB). Akibatnya, IHSG ditutup melemah 7,35 persen pada hari itu, setelah mengalami satu kali trading halt. Bahkan, trading halt kembali terjadi pada Kamis (29/1) pagi WIB.

"Karena lumayan ada spread, besoknya ARB 15 persen, kalau ARB 15 persen lagi kan, artinya saya ada spread segitu. Mau tidak mau, saya pasang dulu semua antrean jualan saya. Kenapa? Karena kalau misalnya telat pasang, saya tak akan bisa jualan, karena satu Indonesia panik, jualan," ujarnya.

Ke depan, ia hakulyakin pasar saham sedang berada dalam fase awal kembali ke bull market seperti 2025. Dengan catatan, MSCI menerima berbagai proposal otoritas bursa dalam upaya meningkatkan transparansi kepemilikan saham dan kelayakan investasi pasar. Dus, dengan begitu, status pasar modal tak akan turun ke level frontier market.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Hengky Adinata Remora Cut Loss Rp60 M Saat IHSG Kebakaran Karena MSCI

13 Feb 2026, 18:48 WIBMarket