Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hashim: 40% Ekonomi Tak Tercatat, Nilainya Capai Rp10.000 Triliun
Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo.
  • Hashim Djojohadikusumo menyebut 35–40 persen kegiatan ekonomi Indonesia tidak tercatat, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp10.000 triliun.

  • Transaksi tanpa kuitansi, termasuk jasa potong rambut, warung tegal, dan salon, disebut berkaitan dengan rendahnya penerimaan negara.

  • Pemerintah berencana menerapkan pemungutan pajak digital dengan melibatkan perbankan dan sejumlah platform digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamis (29/10)

Hashim Djojohadikusumo menyampaikan dalam Rapimnas KADIN bahwa 35–40 persen kegiatan ekonomi Indonesia tidak tercatat.

saat ini

Produk domestik bruto Indonesia tercatat sekitar Rp25.000 triliun. Rasio penerimaan negara berada di kisaran 12 persen dari PDB tercatat.

per tahun

Hashim menyebut terdapat potensi tambahan penerimaan sekitar Rp1.500 triliun per tahun jika rasio penerimaan negara mencapai tingkat Kamboja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hashim Djojohadikusumo menyebut 35–40 persen kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat, dengan nilai mencapai Rp10.000 triliun.
  • Who?
    Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyampaikan pernyataan tersebut.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam acara Rapimnas KADIN di Hotel Borobudur.
  • When?
    Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (29/10); PDB Indonesia saat ini tercatat sekitar Rp25.000 triliun.
  • Why?
    Salah satu penyebabnya adalah banyak transaksi sehari-hari dilakukan tanpa kuitansi, sehingga PPN 11 persen tidak dipungut.
  • How?
    Pemerintah berencana menerapkan pemungutan pajak secara digital dengan teknologi informasi dan AI, melibatkan bank serta platform digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hashim bilang banyak kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat karena orang membayar tanpa kuitansi. Contohnya, orang membayar tukang cukur, warung, atau salon. Hal ini membuat pajak yang diterima negara lebih sedikit. Pemerintah berencana memakai teknologi dan AI untuk memungut pajak secara digital bersama bank dan platform digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rencana pemungutan pajak secara digital menunjukkan adanya upaya untuk mencatat aktivitas ekonomi yang selama ini belum tercermin dalam PDB resmi. Pelibatan bank pemerintah, bank swasta, dan platform digital juga disebut sebagai bagian dari skema untuk meningkatkan penerimaan negara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyebut sebesar 35 hingga 40 persen kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat. Angka ini mencapai Rp 10.000 triliun.

Menurut Hashim, salah satu penyebabnya adalah banyaknya transaksi sehari-hari yang dilakukan tanpa kuitansi.

“Menurut Bank Dunia, kurang lebih 35–40 persen kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat,” kata Hashim dalam acara Rapimnas KADIN di Hotel Borobudur pada Kamis (29/10).

Hashim mengatakan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini tercatat sekitar Rp 25.000 triliun. Meski demikian, ia menyebut Bank Dunia memperkirakan sekitar 35–40 persen kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat.

Menurutnya, kondisi ini membuat ukuran ekonomi Indonesia sebenarnya berpotensi lebih besar daripada yang tercermin dalam angka PDB resmi.

Hashim mencontohkan transaksi jasa potong rambut yang biasa dilakukannya di apartemen. Ia mengatakan, tukang cukur tersebut datang sebulan sekali dan menerima pembayaran tanpa kuitansi. “Dan karena tanpa kuitansi, PPN 11 persen tidak dipungut,” ujarnya.

Hashim menilai transaksi semacam itu terjadi dalam jumlah besar, termasuk pada usaha sehari-hari seperti warung tegal dan salon kecantikan. Besarnya aktivitas ekonomi yang belum tercatat turut berkaitan dengan rendahnya penerimaan negara.

Ia menyebut rasio penerimaan negara Indonesia, termasuk pajak, cukai, dan penerimaan negara bukan pajak, berada di kisaran 12 persen dari PDB tercatat.

Sebagai perbandingan, Hashim menyebut rasio penerimaan negara Kamboja mencapai 18 persen, India 20 persen, dan Vietnam 23 persen.

Ia mengatakan, jika Indonesia mampu mencapai rasio penerimaan negara setara Kamboja, terdapat potensi tambahan penerimaan sekitar Rp 1.500 triliun per tahun.

“Kalau kita bandingkan dengan Kamboja, negara lebih miskin dari Indonesia. Selisihnya antara 18 persen dan 12 persen, itu adalah 6 persen. Enam persen dari yang tercatat adalah Rp 25.000 triliun, enam persen itu berapa? Rp 1.500 triliun bukan?” kata Hashim.

Untuk meningkatkan penerimaan negara, Hashim mengatakan pemerintah akan menerapkan pemungutan pajak secara digital dengan memanfaatkan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, skema tersebut direncanakan melibatkan bank pemerintah, bank swasta, serta platform digital seperti Shopee, Lazada, dan Gojek.

Curated For You

Editorial Team

Related Article