Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, 3 Risiko Membayangi Sampai Akhir Tahun

4 min read
Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, 3 Risiko Membayangi Sampai Akhir Tahun
ilustrasi rupiah, mata uang Indonesia (vecteezy.com/Ridwan Saputra)
  • Rupiah ditutup di Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober, menjadi penutupan terlemah dalam sejarah.

  • Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi harga minyak, kebijakan The Fed, penjualan saham oleh investor asing, dan isu klasifikasi MSCI.

  • BI menjaga stabilitas rupiah melalui transaksi valuta asing, pembelian SBN, serta koordinasi dengan pelaku pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Rupiah memasuki periode ini di level terlemah sepanjang sejarah.

Rupiah ditutup di Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober, penutupan terlemah dalam sejarah, sementata JISDOR terbaru yang telah dipublikasikan BI tercatat Rp18.183 per dolar AS untuk 28 Oktober.

EBC Financial Group (EBC) menilai terdapat tiga hal lain yang kemungkinan lebih berpengaruh terhadap rupiah hingga Desember: seberapa kuat The Fed memberi sinyal kenaikan suku bunga pada Desember, apakah Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuannya, serta apakah harga minyak tetap tinggi dan investor asing terus menjual saham Indonesia.

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan bahwa sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak, karena harga minyak yang lebih tinggi membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong kenaikan harga di AS.

"Kenaikan harga di AS memberi The Fed alasan untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia. Kondisi ini membuat Bank Indonesia harus memutuskan sejauh mana menjaga rupiah, karena suku bunga acuan yang lebih tinggi juga akan membuat pinjaman di dalam negeri lebih mahal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10).

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen –4,00 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober, sesuai perkiraan pasar. 

Sementara itu, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility, yaitu bunga yang dibayarkan BI kepada bank atas dana yang ditempatkan di BI semalam, menjadi 5,00 persen dalam rapat 20–21 Oktober. Suku bunga yang lebih tinggi ini dinilai memberi bank alasan lebih kuat untuk memegang rupiah, sementara suku bunga acuan BI-Rate tetap di 5,75 persen.

BI mengaitkan pelemahan rupiah dengan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta sentimen investor asing terhadap saham Indonesia.

Dua rapat BI berikutnya jatuh pada 17–18 November dan 15–16 Desember, sepekan setelah rapat The Fed pada Desember, sehingga sinyal The Fed yang tegas dapat menambah tekanan bagi BI untuk menaikkan BI-Rate.

Dengan perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak tetap tinggi, kontrak berjangka minyak Brent, patokan harga minyak global, ditutup di sekitar US$114 per barel pada 27 Oktober.

Pada Agustus, EBC mencatat bahwa kenaikan harga minyak mentah menjadi titik lemah bagi neraca perdagangan Indonesia.

Di sisi lain, investor asing yang menjual saham Indonesia umumnya menukarkan kembali rupiah yang mereka terima ke dolar AS. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih saham senilai Rp94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober.

EBC menilai keputusan penyedia indeks MSCI yang masih tertunda, yang indeksnya menjadi acuan banyak dana global, dapat memperpanjang aksi jual tersebut. Pada 15 Oktober, MSCI mengusulkan pemindahan Indonesia dari status Emerging Market ke Standalone Market, yang akan mengeluarkan saham Indonesia dari indeks emerging market milik MSCI, dengan masa penyampaian masukan hingga 30 April 2027. EBC sebelumnya telah menyoroti risiko arus keluar dana yang ditimbulkan isu ini terhadap rupiah.

“Jika harga minyak tetap tinggi dan inflasi AS tidak mereda, alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember akan semakin kuat, dan tekanan terhadap rupiah serta Bank Indonesia kemungkinan meningkat. Jika keduanya mereda, rupiah punya ruang untuk stabil menjelang akhir tahun,” kata Sana.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan bahwa pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.

Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat.

Di samping itu, sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan USD dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi.

Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, Rupiah melemah 1,15 persen," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (28/10).

Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

BI mengatakan akan memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank Indonesia juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More