Jakarta, FORTUNE - Industri asuransi Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjangkau generasi muda. Meski minat terhadap perlindungan finansial tergolong tinggi, tingkat kepemilikan asuransi di kalangan Generasi Z dan Milenial masih relatif rendah. Salah satu faktor utama yang menghambat adopsi bukan lagi sekadar literasi keuangan, melainkan persoalan kepercayaan terhadap industri asuransi itu sendiri.
Temuan tersebut terungkap dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang diterbitkan oleh IDN Research Institute. Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh responden atau 47,7 persen belum memiliki asuransi di luar BPJS.
Asuransi kesehatan menjadi produk yang paling banyak dimiliki dengan porsi 32,9 persen, disusul asuransi jiwa sebesar 20,2 persen. Namun, kesenjangan kepemilikan masih terlihat cukup lebar antar kelompok masyarakat. Sebanyak 56 persen responden perempuan tercatat tidak memiliki asuransi, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 39,6 persen.
Perbedaan juga terlihat dari sisi generasi. Sebanyak 54,1 persen Gen Z belum memiliki asuransi, sementara pada kelompok Milenial angkanya mencapai 41,2 persen.
"Secara keseluruhan, kesenjangan kepemilikan asuransi masih tinggi. Sebanyak 48 persen responden tidak memiliki asuransi apa pun, sementara asuransi kesehatan menjadi produk yang paling banyak dimiliki dengan porsi 33 persen, yang menunjukkan cakupan perlindungan masih terbatas," ungkap laporan tersebut.
Temuan ini muncul di tengah pertumbuhan industri asuransi nasional yang masih menunjukkan tren positif. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah tertanggung mencapai 168,03 juta orang sepanjang 2025 atau meningkat 8,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Industri juga membayarkan klaim dan manfaat senilai Rp146,73 triliun kepada 9,59 juta penerima manfaat.
Meski demikian, peningkatan partisipasi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam tingkat adopsi yang lebih luas, khususnya di kalangan generasi muda.
Menurut laporan itu, alasan utama responden tidak membeli asuransi bukan karena tidak memahami produk. Sebaliknya, banyak yang merasa perlindungan dari BPJS sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Sebanyak 36,9 persen responden tidak membeli asuransi tambahan karena merasa telah terlindungi oleh BPJS, yang menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap sistem jaminan kesehatan publik," ungkap laporan tersebut.
Selain itu, sebanyak 32,4 persen responden mengaku memiliki prioritas keuangan lain, sementara 32 persen merasa belum membutuhkan asuransi. Faktor harga juga masih menjadi pertimbangan dengan 26,6 persen responden menilai premi asuransi terlalu mahal.
