Akselerasi Pembayaran Digital Pacu Ekonomi Nasional, Fraud dan DDoS Jadi Ancaman

- Bank Indonesia memproyeksikan volume transaksi pembayaran digital nasional meningkat empat kali lipat pada 2030, setelah mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II-2026 atau tumbuh 36,88 persen tahunan.
- Perluasan penerimaan digital dan inovasi pembayaran dinilai mempercepat perputaran uang serta pemrosesan transaksi, sehingga mendukung produktivitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
- Digitalisasi memicu risiko siber, fraud, transaksi ilegal, DDoS, dan penyalahgunaan AI; industri menekankan perlunya infrastruktur tangguh, tata kelola, data berkualitas, serta perlindungan konsumen.
Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan volume transaksi pembayaran digital nasional bakal melonjak hingga empat kali lipat pada 2030. Optimisme ini didukung oleh realisasi volume transaksi pembayaran digital yang mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada triwulan II-2026, meski industri diingatkan memperkuat ketahanan infrastruktur dari lonjakan risiko siber dan fraud.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan perluasan penerimaan pembayaran digital dan akselerasi inovasi menjadi kunci utama dalam mendorong produktivitas ekonomi nasional secara berkelanjutan. Efisiensi perputaran uang (velocity of money) serta pemrosesan transaksi yang kian cepat menjadi pendorong utama peningkatan produktivitas tersebut.
“Kami meyakini akselerasi inovasi digital mampu memperkuat produktivitas ekonomi sebagai kondisi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Filianingsih melalui keterangan resmi, Rabu (12/8).
Kendati demikian, pesatnya digitalisasi juga membawa deretan tantangan mendasar yang perlu diantisipasi secara kolaboratif.
Risikonya mencakup peningkatan ancaman siber, maraknya transaksi ilegal dan penggelapan, rendahnya tingkat literasi digital, hingga perlindungan konsumen. Kondisi ini menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur pembayaran yang tangguh, aman, terintegrasi, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dari sudut pandang pelaku industri, Presiden Direktur PT Rintis Sejahtera (RINTIS), Abraham J. Adriaansz, menyoroti lanskap risiko yang terus berubah seiring cepatnya perkembangan teknologi.
Sebagai pengelola layanan switching Jaringan PRIMA serta Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) bagi sektor bank maupun nonbank, pihaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fraud dan serangan siber, seperti Distributed Denial of Service (DDoS) yang menargetkan server.
“Sebagai industri sistem pembayaran tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan kinerja hari ini, tetapi juga perlu membangun ketahanan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Ancaman siber yang semakin kompleks, termasuk serangan DDoS dan penyalahgunaan artificial intelligence (AI), menuntut kita untuk terus beradaptasi dan memperkuat kesiapan bersama,” kata Abraham pada gelaran Prima Executive Gathering 2026.
Abraham menambahkan, keberhasilan pemanfaatan AI dalam industri sistem pembayaran tidak semata-mata mengandalkan kecanggihan teknologi, tapi juga ditopang fondasi tata kelola yang kuat, kualitas data, serta keandalan sistem keamanan.
















