Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Kenakan Tarif 15 Persen untuk Produk Berbasis Polisilikon
ilustrasi pemasangan panel surya (pixabay.com/lumagreens solutions)
  • AS akan mengenakan tarif impor 15 persen pada produk berbasis polisilikon mulai 4 Desember 2026, guna memperkuat industri domestik dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang didominasi Cina.
  • Washington juga menetapkan harga minimum untuk polisilikon, ingot-wafer, sel surya, dan modul surya, setelah investigasi keamanan nasional terhadap material strategis bagi energi surya serta semikonduktor.
  • Produsen polisilikon AS menyambut kebijakan ini, tetapi tarif dan harga minimum berpotensi menaikkan biaya industri yang bergantung pada impor serta mendorong perubahan rantai pasok global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif impor sebesar 15 persen terhadap produk berbasis polisilikon, bahan penting yang digunakan dalam pembuatan panel surya dan semikonduktor. Melansir Reuters, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Washington memperkuat industri domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang didominasi Cina.

Selain tarif, pemerintah AS menetapkan harga minimum untuk sejumlah produk yang menggunakan polisilikon, termasuk polisilikon, ingot dan wafer, sel surya, serta modul surya. Kebijakan tersebut diumumkan pada 6 Agustus 2026 dan dijadwalkan mulai berlaku pada 4 Desember 2026.

Polisilikon merupakan salah satu bahan utama dalam rantai produksi panel fotovoltaik. Material tersebut juga digunakan dalam industri semikonduktor sehingga pasokannya dinilai memiliki arti strategis bagi sektor energi dan teknologi AS.

Melansir The Wall Street Journal, kebijakan ini diambil setelah Departemen Perdagangan AS melakukan investigasi keamanan nasional selama sekitar satu tahun terhadap industri polisilikon. Pemerintah AS menilai kapasitas produksi dalam negeri perlu diperkuat untuk mengurangi risiko terhadap rantai pasok material yang dianggap penting bagi industri strategis.

Langkah tersebut juga tidak terlepas dari dominasi Cina dalam industri polisilikon dan rantai pasok panel surya global. Pemerintah AS sebelumnya telah meningkatkan tekanan perdagangan terhadap sejumlah produk Cina, termasuk polisilikon dan wafer.

Pada akhir 2024, misalnya, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menaikkan tarif Section 301 terhadap impor polisilikon dan wafer surya asal Cina menjadi 50 persen, yang mulai berlaku pada Januari 2025.

Kebijakan terbaru menggunakan pendekatan berbeda. Selain mengenakan tarif 15 persen, Washington menetapkan batas harga minimum untuk sejumlah produk turunan polisilikon. Harga minimum yang ditetapkan antara lain US$21 per kilogram untuk polisilikon, US$100 per kilogram untuk ingot dan wafer, 22 sen per watt untuk sel surya, serta 38 sen per watt untuk modul.

Bagi industri AS, kebijakan tersebut diharapkan menciptakan ruang yang lebih besar bagi produsen domestik untuk bersaing dengan produk impor berharga rendah. The Guardian melaporkan, dua produsen polisilikon utama AS, Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie, termasuk pihak yang menyambut kebijakan tersebut karena dinilai dapat memperkuat daya saing produksi dalam negeri.

Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi menambah tekanan biaya bagi industri yang masih bergantung pada material impor. Tarif dan harga minimum dapat meningkatkan biaya komponen panel surya maupun produk lain yang menggunakan polisilikon, terutama ketika pasokan domestik belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan pasar.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi antara AS dan Cina semakin merambah bahan baku strategis. Polisilikon tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas untuk industri energi surya, tetapi juga sebagai bagian dari rantai pasok semikonduktor dan teknologi strategis.

Dengan tarif baru tersebut, Washington berupaya menggunakan kebijakan perdagangan untuk mendorong investasi dan produksi domestik. Di sisi lain, pelaku industri harus menghadapi konsekuensi berupa perubahan struktur biaya dan potensi pergeseran rantai pasok global.

Bagi pasar global, kebijakan tersebut berpotensi memperkuat fragmentasi rantai pasok polisilikon dan produk turunannya. Industri yang selama ini bergantung pada rantai pasok Asia dapat menghadapi kebutuhan untuk mencari sumber alternatif ketika AS memperketat akses produk impor.

Dengan demikian, tarif 15 persen tersebut bukan hanya kebijakan perdagangan terhadap satu jenis material. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk mengamankan rantai pasok bahan baku yang menopang dua sektor sekaligus, yakni energi surya dan semikonduktor, di tengah persaingan teknologi dan industri yang semakin ketat dengan Cina.

Curated For You

Editorial Team

Related Article