Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Aspra Andalkan Impor Akibat Krisis Bahan Baku Plastik Dalam Negeri

Aspra Andalkan Impor Akibat Krisis Bahan Baku Plastik Dalam Negeri
Ilustrasi galon guna ulang. (IDN Times/Istimewa).
Intinya Sih
  • PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) meningkatkan impor bahan baku plastik karena pasokan lokal terbatas.

  • Perusahaan mengalihkan sebagian sumber bahan baku ke Cina.

  • Kenaikan harga bahan baku hingga 60 persen mendorong penyesuaian harga jual.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Emiten produsen kemasan plastik, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) atau Aspra, mulai meningkatkan porsi impor bahan baku di tengah tekanan pasokan dalam negeri yang makin terbatas. Langkah ini diambil sebagai respons atas gejolak global, khususnya konflik di Timur Tengah, yang berdampak langsung pada ketersediaan dan harga bahan baku plastik.

Direktur ASPR, Arif, menyatakan selama ini komposisi bahan baku perusahaan masih didominasi pasokan lokal. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan mulai menggeser strategi dengan memperbesar porsi impor.

“Terakhir, komposisinya sekitar 70 persen lokal dan 30 persen impor. Tapi karena dampak perang dan keterbatasan suplai di dalam negeri, kami mulai memperbanyak porsi impor,” kata dia saat paparan publik insidentil, Rabu (8/4).

Menurut dia, sebagian besar bahan baku sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah, terutama untuk kebutuhan kemasan cat. Tetapi, kondisi geopolitik membuat perusahaan harus mencari alternatif sumber pasokan.

ASPR kini mulai mengalihkan sebagian kebutuhan bahan baku ke Cina, yang dinilai memiliki kualitas tidak jauh berbeda. Diversifikasi pemasok ini menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah ketidakpastian global.

“Jadi, ada alternatif supplier untuk menggantikan kebutuhan bahan baku,” kata Arif.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia turut memperburuk kondisi. Harga minyak yang sempat berada mencapai US$60 per barel kini melonjak hingga di atas US$100 per barel. Kenaikan ini berdampak langsung pada harga resin plastik sebagai produk turunan minyak.

Menghadapi situasi tersebut, ASPR mengedepankan strategi menjaga ketersediaan pasokan agar tetap dapat memenuhi permintaan pelanggan. Perusahaan juga mengandalkan kontrak dengan pemasok serta melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar dan harga global.

“Kami terus me-monitor kondisi global setiap hari, melakukan analisa agar stok tidak berlebih tapi juga tidak kekurangan. Kami juga memiliki kontrak dengan supplier untuk menjaga stabilitas pasokan,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan juga menerapkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar yang dapat berpengaruh pada biaya impor bahan baku.

Tekanan biaya produksi yang meningkat pun tidak terhindarkan. ASPR mengakui telah melakukan penyesuaian harga jual produk kepada pelanggan, seiring kenaikan harga bahan baku yang signifikan.

“Berita terbaru untuk kemasan plastik ini mengalami kenaikan mungkin sampai 50-60 persen. begitu juga untuk produk-produk dari Asia Pramulia juga mengalami kenaikan menyesuaikan dengan harga bahan baku saat ini,” kata Arif.

Meski demikian, perusahaan tetap berkomitmen menjaga komunikasi dengan pelanggan, khususnya mitra loyal, terkait dinamika harga bahan baku baik saat naik maupun turun.

Di tengah tekanan tersebut, ASPR justru melihat peluang pertumbuhan dari meningkatnya permintaan kemasan air minum dalam kemasan (AMDK). Perubahan pola konsumsi masyarakat yang makin bergantung pada air minum siap konsumsi menjadi pendorong utama.

“Tahun ini kami fokus meningkatkan kapasitas produksi, khususnya untuk kemasan AMDK, karena permintaannya terus meningkat,” ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More