Comscore Tracker
NEWS

Indonesia-Jepang Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah

Kedua negara membahas ide mekanisme pengelolaan sampah.

Indonesia-Jepang Jajaki Kerja Sama Pengelolaan SampahIlustrasi tumpukan sampah. (Pixabay/RitaE)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang jajaki kerja sama di bidang  pengelolaan sampah pada rangkaian acara 6th Joint Committee on Waste Treatment. 

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Kemenko Marves, Nani Hendiarti, mengatakan, agenda ini merupakan tindak lanjut serangkaian pertemuan 5th Joint Committee yang dilaksanakan pada 19 Februari 2021 serta pertemuan level teknis (joint working group discussion) pada bulan Mei 2021 dan Januari 2022 dengan pokok bahasan isu Keberlanjutan Off-taking dan Analisis Rantai Nilai Sampah Perkotaan.

“Dari pertemuan tersebut kita telah mengeksplorasi beberapa ide penguatan mekanisme pengelolaan sampah di Indonesia, yang dibagi dalam dua topik yakni keberlanjutan off-taking produk RDF dan Analisis Rantai Nilai Sampah Kota,” katanya dikutip dari laman Kemenko Marves, Rabu (9/3).

Menurut Nani, kedua topik ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam percepatan pengelolaan sampah. Pemerintah telah menargetkan 30 persen pengurangan dan 70 persen penanganan sampah di darat, serta 70 persen penanganan sampah laut pada tahun 2025.

Upaya percepatan penyelesaian masalah sampah

Nani mengatakan, dua tahun terakhir, pemerintah mempercepat penyelesaian masalah persampahan dengan fokus pada wilayah yang memerlukan optimalisasi manajemen pengelolaan sampah segera. Upaya itu di antaranya penetapan kabupaten/kota yang masuk dalam program DAS Citarum, pembangunan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), dan Kabupaten/Kota Sarbagita, Bali.

Dalam menyelesaikan masalah persampahan di Sarbagita, Bali, pemerintah mengembangkan fasilitas persampahan, berupa TPS3R (small waste treatment facility) dan TPST (integrated waste treatment facility).

“Upaya ini dilakukan melalui pendekatan penanganan sampah sedekat mungkin dengan sumber, sampai dengan penerapan teknologi RDF, mengoptimalkan penerapan prinsip ekonomi sirkular, guna meminimalisir kebutuhan akan TPA,” ungkapnya.

Teknologi RDF

Hal lain yang menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan daring antara Indonesia dan Jepang terkait penerapan teknologi RDF, mencakup teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah jadi sesuatu yang bermanfaat, seperti bahan bakar.

Sebelumnya, sampah yang mudah dan sulit terbakar dipisahkan lewat proses pencacahan, pengayakan, dan klasifikasi udara.

Konsultan pada Japan Environment Sanitation Center, Makoto Kosaka, mengungkapkan dalam kerja sama dengan pihak swasta, pemerintah daerah dan pusat di Jepang dapat membangun fasilitas pengolahan sampah yang memungkinkan distribusi energi panas (listrik) untuk meningkatkan nilai tanah di sekitar fasilitas pengolahan sampah.

“Sekarang di Jepang, Waste to Energy dapat ditemukan, bahkan di area padat penduduk,” katanya.

Pengelolaan limbah medis

Selain itu, pengelolaan limbah B3 (limbah medis), baik pemerintah Indonesia maupun Jepang sepakat bahwa fasilitas pembuangan limbah medis di Indonesia masih sangat kurang dan jadi masalah serius. Namun, Nani mengatakan bahwa sejumlah kebijakan penyediaan insinerator sudah diambil demi penanggulangan sampah medis.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Yukata Syoda, berharap kolaborasi yang terjalin dapat menghasilkan regulasi baik terkait oengelolaan sampah medis.

“Saya berharap pertemuan ini dapat berkontribusi dalam pengolahan sampah berkelanjutan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Related Articles