Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

AS dan India Jadi Penyumbang Surplus Terbesar Neraca Dagang RI

antarafoto-kemendag-bidik-ekspor-tumbuh-174-persen-pada-2026-1770366960.jpg
Kementerian Perdagangan membidik ekspor tumbuh hingga 17,4 persen terutama pada sektor peralatan elektronik, kulit, produk logam, manufaktur, dan tekstil, melalui perundingan Persetujuan Perdagangan Bebas Indonesia-Gulf Cooperation Council GCC (Indonesia-GCC FTA) putaran ke-4 di Riyadh, Arab Saudi pada 18-23 Januari 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Intinya sih...
  • Surplus neraca perdagangan RI capai US$41,05 miliar pada 2025.
  • Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia.
  • Ekspor nonmigas Indonesia tumbuh 7,66 persen meski harga komoditas utama mengalami tekanan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Indonesia berhasil mengamankan kinerja perdagangan luar negeri sepanjang 2025. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, neraca perdagangan nasional mencatatkan selisih positif sebesar US$41,05 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso melaporkan total ekspor Indonesia selama setahun penuh menyentuh US$282,91 miliar. Sementara itu, nilai impor berada pada angka US$241,86 miliar. Amerika Serikat (AS) muncul sebagai kontributor surplus terbesar bagi Indonesia.

Surplus perdagangan dengan AS mencapai US$18,11 miliar. Capaian ini ditopang oleh volume ekspor senilai US$30,96 miliar berbanding impor US$12,85 miliar. Manuver ini resmi menggeser posisi India yang secara historis menempati peringkat pertama penyumbang keuntungan dagang nasional.

“Surplus terbesar kita justru ke Amerika, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Dulu biasanya yang pertama India ya, tapi sekarang nomor satu Amerika,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/2).

India kini menempati urutan kedua dengan surplus US$13,49 miliar. Menyusul di peringkat ketiga, Filipina menyumbang surplus US$8,42 miliar. Selanjutnya, Belanda dan Vietnam turut memperkuat neraca dengan masing-masing mencatat surplus US$4,81 miliar dan US$4,47 miliar.

Prestasi ini diraih saat harga komoditas utama Indonesia sedang berada di bawah tekanan. Harga crude palm oil (CPO) terkoreksi 16,2 persen, sementara batu bara merosot hingga 19,7 persen. Meski demikian, total ekspor nasional tetap tumbuh positif 6,15 persen.

Ketangguhan ekonomi domestik semakin terlihat pada sektor nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan hingga 7,66 persen. Hal ini mencerminkan keberhasilan diversifikasi pasar dan kuatnya fundamental sektor manufaktur nasional. Capaian 2025 ini juga menandai rekor surplus Indonesia selama 68 bulan berturut-turut.

Pemerintah tetap memandang optimis namun realistis terhadap dinamika ekonomi global di masa depan. Pendekatan strategi perdagangan yang adaptif akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan tren positif ini.

“Kalau kita lihat perkembangan global sekarang ini, kita juga harus realistis. Sehingga, kalau kita menargetkan, kita juga optimistis bahwa capaian yang lebih tinggi dari outlook ini bisa kita lakukan,” kata Budi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More

AS dan India Jadi Penyumbang Surplus Terbesar Neraca Dagang RI

06 Feb 2026, 18:40 WIBNews