BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026

- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen yoy pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 4,87 persen.
- Seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali pertambangan serta pengadaan listrik dan gas, dengan industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB nasional.
- Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi sebesar 2,94 persen, didukung momentum Hari Besar Keagamaan dan program prioritas pembangunan pemerintah.
Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (yoy).
Kepala BPS Amilia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I atas dasar harga berlaku Rp6.187,2 triliun, sementara berdasarkan harga konstan Rp 3.447,7 triliun.
“Secara triwulanan, ekonomi indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen, secara yoy tumbuh 5,61 persen dibandingkan tahun lalu,” katanya pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5).
Amilia mengatakan, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen yoy.
Dari sisi lapangan usaha, secara tahunan seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali industri pertambangan dan industri pengadaan listrik dan gas.
Sementara itu, industri yang memberikan kontribusi terbesar kepada ekonomi Indonesia adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Angka kontribusi dari industri tersebut mencapai 63,52 persen dari total PDB. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 1,03 persen.
Sementara itu, BPS menjelaskan bahwa lapangan usaha yang tumbuh tinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen yang didorong oleh peningkatan kinerja penyediaan makan minum seiring perluasan cakupan program MBG dan momen libur nasional.
Industri jasa lainnya tumbuh 9,91 persen yang didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara. Sedangkan transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen yang didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi.
Menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 2,94 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tercatat 1,79 persen, konsumsi pemerintah 1,26 persen.
“Hal ini didorong oleh konsumsi masyarakat karena momentum Hari Besar Keagamaan serta berjalannya program prioritas pembangunan pemerintah,” katanya.
Pada kuartal I 2025, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
















