Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Dampak Besar Perang Iran–AS dan Israel ke Ekonomi Indonesia

Dampak Besar Perang Iran–AS dan Israel ke Ekonomi Indonesia
ilustrasi serangan AS dan Israel di Iran (pexels.com/Ahmed Akacha)
Intinya Sih
  • BI mengidentifikasi tiga jalur dampak utama: finansial, komoditas, dan perdagangan.

  • Konflik mendorong capital outflow dan penguatan dolar AS yang menekan pasar domestik.

  • Kenaikan harga komoditas memberi efek ganda bagi ekonomi Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — Bank Indonesia (BI) memetakan dampak besar perang Iran–AS dan Israel ke ekonomi Indonesia melalui tiga jalur utama, yakni sektor finansial, harga komoditas, serta perdagangan dan produksi.

Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai meningkatkan ketidakpastian global dan memicu perubahan perilaku pasar keuangan internasional.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan dampak langsung konflik terhadap sektor keuangan relatif terbatas, namun efek tidak langsungnya signifikan karena melibatkan Amerika Serikat (AS) sebagai pusat keuangan global.

“Dampak langsungnya dari apa yang terjadi di perang di Iran tersebut adalah ketidakpastian pasar keuangan global dan juga sentimen risiko itu akan naik,” ujar Destry dalam Central Banking Forum 2026, Senin (13/4).

Pernyataan ini menegaskan bahwa peningkatan risiko global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan ekonomi, termasuk di Indonesia.

Tekanan sektor finansial dan arus modal keluar

BI mencatat jalur finansial menjadi salah satu transmisi utama dampak konflik. Ketidakpastian global mendorong investor menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap aman atau safe haven.

Kondisi ini memicu aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Mau tidak mau aliran ke ekonomi negara maju termasuk ke AS, DXY (indeks dolar) mengalami peningkatan kemudian flow ke emerging market (pasar negara berkembang), tidak hanya ke Indonesia tapi emerging market juga berkurang,” ujar Destry.

Penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil US Treasury mempertegas tekanan tersebut.

BI mencatat secara keseluruhan terjadi arus keluar modal sekitar Rp21 triliun, meskipun masih terdapat aliran masuk terbatas pada Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Arus modal ke emerging market berkurang. Di Indonesia pun kita merasakan, meski mulai ada inflow (arus masuk) masuk di SBN, saham, dan SRBI, tapi overall (secara keseluruhan) kita masih terjadi outflow (arus keluar) sekitar Rp21 triliun,” tutur Destry.

Tekanan ini berdampak pada nilai tukar dan meningkatkan premi risiko di pasar domestik, seiring meningkatnya ekspektasi inflasi global.

Lonjakan harga komoditas global

Jalur kedua berasal dari kenaikan harga komoditas, terutama energi. Konflik yang melibatkan Iran berdampak pada jalur distribusi minyak global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi rute penting perdagangan energi dunia.

BI mencatat meskipun produksi minyak Iran hanya sekitar 5 persen dari total global, Selat Hormuz berkontribusi sekitar 20 persen terhadap distribusi minyak dunia. Gangguan di jalur ini mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan.

“Sehingga meningkatkan harga minyak, jadi harga minyak kemarin 3 hari lalu sudah tercapai kesepakatan AS-Iran. Tapi semalam belum ada kesepakatan. Akibatnya naik semua, DXY naik di atas 100, mata uang regional advance ekonomi mengalami kelemahan,” jelas Destry.

Kenaikan harga minyak turut diikuti oleh lonjakan harga komoditas lain seperti emas, batu bara, aluminium, hingga minyak kelapa sawit (CPO). Emas meningkat sebagai aset lindung nilai, sementara batu bara naik karena digunakan sebagai alternatif energi.

“Jadi sebenarnya dampak tidak langsung cukup bagus ke Indonesia karena ada coal, CPO, emas. Dampaknya ada 2 sisi harga minyak naik tapi komoditi ekspor juga meningkat,” ujar Destry.

Kondisi ini menciptakan efek ganda bagi Indonesia, di mana tekanan impor energi meningkat, namun di sisi lain terdapat potensi peningkatan nilai ekspor komoditas.

Gangguan perdagangan dan rantai pasok global

Selain sektor finansial dan komoditas, konflik juga berdampak pada perdagangan internasional dan rantai pasok. BI mencatat kontribusi Iran terhadap perdagangan global relatif kecil, dengan porsi di bawah 1 persen terhadap PDB dan ekspor-impor dunia.

Namun, gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, berdampak luas terhadap jalur logistik global. Hambatan ini memengaruhi negara-negara mitra dagang utama seperti China, India, Irak, dan Turki.

“Ini meningkatkan biaya pengapalan dan premi asuransi, jadi logistiknya juga naik. Sehingga terjadi gangguan terhadap global supply chain,” tutur Destry.

Kenaikan biaya logistik dan disrupsi pasokan mendorong kenaikan harga berbagai produk, termasuk komoditas industri seperti plastik dan sektor pertanian. Pada saat yang sama, gangguan rantai pasok berpotensi menekan aktivitas produksi global.

Dampak makro: tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi

Akumulasi dari ketiga jalur tersebut berdampak pada kondisi makroekonomi global. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat, sementara tekanan inflasi meningkat.

“Ini namanya stagflasi enggak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting. Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar kemudian kebijakan moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang berlomba membuat aset domestik menjadi menarik,” ujar Destry.

Kondisi ini mencerminkan kombinasi perlambatan pertumbuhan dan kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan, yang kemudian memengaruhi arah kebijakan ekonomi di berbagai negara.

Implikasi terhadap ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, dampak perang Iran–AS dan Israel ke ekonomi Indonesia bersifat multidimensi. Tekanan pada sektor keuangan terlihat dari arus modal keluar dan penguatan dolar AS, sementara sektor riil menghadapi kenaikan biaya energi dan logistik.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara, emas, dan CPO memberikan dorongan terhadap kinerja perdagangan luar negeri.

Dinamika ini menunjukkan adanya efek yang berbeda antara sektor impor dan ekspor dalam merespons gejolak global.

FAQ seputar dampak perang Iran–AS dan Israel ke ekonomi Indonesia

Apa saja dampak utama perang Iran–AS dan Israel ke ekonomi Indonesia?

Terdapat tiga dampak utama yaitu tekanan sektor finansial, kenaikan harga komoditas, dan gangguan perdagangan global.

Mengapa harga minyak dunia naik akibat konflik ini?

Karena Selat Hormuz sebagai jalur 20 persen distribusi minyak global terganggu oleh eskalasi konflik.

Bagaimana dampaknya terhadap arus modal Indonesia?

Terjadi arus modal keluar sekitar Rp21 triliun meski masih ada inflow terbatas di beberapa instrumen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More