Comscore Tracker
NEWS

KCIC Yakin Pemindahan IKN Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang Kereta Cepat

KCIC menggandeng POLAR UI dalam membuat riset kereta cepat.

KCIC Yakin Pemindahan IKN Tak Pengaruhi Jumlah Penumpang Kereta CepatPekerja menyelesaikan pengerjaan proyek Tunnel Satu Halim Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 5+500, Jakarta, Kamis (27/1/2022). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE -   PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengaku tak khawatir dengan rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) terhadap potensi penumpang Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). 

Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi, mengatakan efek pemindahan Ibu Kota terhadap penurunan permintaan tidak begitu besar. Apalagi Jakarta masih akan menjadi pusat ekonomi, bisnis, dan perdagangan. Selain itu, ada juga pertumbuhan daerah industri di sepanjang trase yang dilalui KCJB.

KCIC menggandeng Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI) untuk melakukan proyeksi permintaan dari penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Riset ini dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini atas tingkat permintaan dan prediksi penumpang selama pandemi Covid-19, hingga perubahan asumsi menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Penelitian tersebut menunjukkan jumlah penumpang harian KCJB mencapai lebih dari 31 ribu, turun ketimbang hasil riset sebelumnya oleh LAPI ITB pada awal proyek yang mencapai 61 ribu. "Riset Polar UI sangat mempertimbangkan kondisi pandemi dan dampak turunannya," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (13/2).

Pandemi Covid-19 turut berikan dampak

Imbas dari pandemi Covid-19 terhadap proyeksi permintaan itu dapat dirasakan hingga lima tahun ke depan. Sebab, kata Dwiyana, riset tersebut menerapkan asumsi pertumbuhan yang konservatif, yang bergantung pada kondisi pandemi di Tanah Air.

Meski demikian, Dwiyana mengatakan potensi pertumbuhan ekonomi yang cukup baik tahun ini akan berdampak positif. Bahkan, tren pemulihan ekonomi ini diharapkan terus berlanjut sehingga dapat mendorong arus mobilitas masyarakat, terutama yang akan menggunakan kereta cepat Jakarta–Bandung.

"Walaupun dalam lima tahun pertama pertumbuhan penumpang diasumsikan kecil (konservatif), namun di tahun berikutnya diharapkan mobilitas orang akan membaik seiring dengan menggeliatnya perekonomian kita pascacovid," ujarnya.

Anggaran bengkak

Dana pembangunan KCJB membengkak. Pada tahap perencanaan awal, proyek kereta cepat ini diperkirakan bakal menghabiskan US$6,07 miliar atau sekitar Rp86,5 triliun. Namun, dalam perjalanannya, ada perkiraan kenaikan anggaran mencapai US$8 miliar. Itu artinya terdapat cost overrun sekitar US$1,9 miliar atau setara Rp27,09 triliun. Sehingga secara total diperkirakan pembengkakan mencapai Rp113,5 triliun.

Namun, hingga kini perhitungan anggaran masih difinalisasi oleh pihak Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan akan segera dilaporkan kepada pemerintah.

Direncanakan bakal beroperasi pada 2023

Selain pembengkakan biaya, proyek pembangunan KCJB pun molor dari target awal. Sebelumnya proyek ini ditargetkan akan dapat beroperasi pada akhir 2022, namun kini diundur menjadi Juni 2023.

Proyek tersebut membentang 142 kilometer dengan 4 stasiun: Halim, Karawang, Padalarang dan Tegalluar.

Kereta yang akan digunakan bertipe CR400AF, keluaran terbaru dari China Railway. Kereta ini memiliki kecepatan 400 kilometer per jam, namun pada saat operasi nantinya hanya akan berjalan 350 kilometer per jam.
 

Related Articles