Jakarta, FORTUNE - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mempercepat penguatan layanan transportasi publik melalui elektrifikasi jalur di kawasan urban dan wilayah penyangga seperti Rangkasbitung, Bogor, hingga Cikarang. Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan sektor perkeretaapian sebagai tulang punggung mobilitas massal, sebagaimana ditekankan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Stasiun Tanah Abang Baru pada November 2025.
Seiring ekspansi kawasan hunian, industri, dan aktivitas ekonomi, kebutuhan mobilitas masyarakat menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Data KAI mencerminkan lonjakan signifikan di sejumlah lintas utama. Di Rangkasbitung, volume pengguna KRL naik dari 43,3 juta pada 2022 menjadi 77,5 juta pada 2025, sementara pada kuartal I 2026 telah mencapai lebih dari 20,1 juta pengguna. Tren serupa juga terlihat pada layanan KA lokal Rangkasbitung–Merak yang terus bertumbuh dalam tiga tahun terakhir.
Lonjakan lebih besar tercatat di lintas Bogor, dengan jumlah pengguna KRL meningkat dari 102 juta pada 2022 menjadi 155 juta pada 2025. Hingga triwulan I 2026, angkanya telah menyentuh 38,2 juta pengguna. Sementara itu, layanan KA Pangrango pada lintas Bogor–Sukabumi juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan penumpang yang stabil sejak 2023.
Di sisi lain, lintas Cikarang mencatat pertumbuhan dari 55,6 juta pengguna pada 2022 menjadi 85,9 juta pada 2025, dengan capaian 21,7 juta pengguna pada kuartal I 2026. Lintas ini turut ditopang layanan KA lokal seperti Jatiluhur dan Walahar yang menghubungkan kawasan industri hingga Purwakarta.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menilai tren ini mencerminkan perubahan pola mobilitas masyarakat yang semakin dinamis dan meluas.
“Pergerakan masyarakat semakin meluas. Angka-angka ini menunjukkan kebutuhan layanan yang terus berkembang mengikuti aktivitas di berbagai wilayah,” ujar Anne.
