Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengalihkan sumber impor liquefied petroleum gas (LPG) dari kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lain. Langkah ini diambil sebagai strategi menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan pasokan LPG dalam negeri saat ini tetap aman meskipun terjadi gangguan pasokan. Ia menyebut, pengalihan ini telah berjalan dan menjadi bagian dari kebijakan diversifikasi energi.
“Kita alihkan ke negara lain seperti Amerika, Australia, dan beberapa negara lainnya,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4).
Menurutnya, kebijakan ini serupa dengan strategi pemerintah dalam mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah ke negara-negara di kawasan Afrika, seperti Angola dan Nigeria. Diversifikasi tersebut dilakukan demi mengurangi ketergantungan pada satu wilayah, sekaligus mengantisipasi risiko gangguan pasokan seperti saat ini ketika jalur logistik terganggu akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan kontrak jangka panjang impor LPG dengan sejumlah negara mitra. Kebijakan ini bertujuan memastikan ketersediaan energi tetap terjaga meskipun terjadi perubahan peta pasokan global akibat tensi geopolitik.
Saat ini, sekitar 70–75 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dipasok dari negara lain, termasuk Australia. Komposisi ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam strategi pengadaan energi nasional.
Pemerintah juga memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dalam kondisi aman. Kebutuhan solar nasional kini telah sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri, sehingga tidak lagi bergantung pada impor.
Untuk minyak mentah, pemerintah mencatat sekitar 20 persen impor sebelumnya berasal dari Timur Tengah. Namun, seperti LPG, pemerintah kini juga menyiapkan alternatif sumber pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan berbagai negara guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah diversifikasi ini dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan energi Indonesia, sekaligus meminimalkan dampak dari ketidakpastian global terhadap sektor energi domestik.
