Jakarta, FORTUNE – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi El Nino yang diperkirakan mulai terbentuk dalam beberapa pekan ke depan. Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang masuk dalam wilayah berisiko tinggi mengalami kekeringan pertanian, bersama India, Pakistan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Filipina, dan Timor-Leste.
Peringatan tersebut menyeruak seiring analisis terbaru yang memanfaatkan data satelit selama 41 tahun melalui Agricultural Stress Index System (ASIS). Sistem tersebut memetakan wilayah-wilayah yang paling rentan mengalami kekeringan akibat fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang kuat maupun sangat kuat.
Analisis itu sejalan dengan proyeksi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang memperkirakan siklus El Nino kali ini berpotensi lebih kuat dibandingkan kondisi normal.
FAO menyatakan kawasan dengan risiko tertinggi meliputi wilayah Sahel, Afrika bagian selatan, Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah dan Karibia. Di wilayah tersebut, sejumlah area pertanian dan padang penggembalaan memiliki probabilitas lebih dari 50 persen mengalami kekeringan dalam beberapa bulan mendatang.
Di Asia, dampak El Nino diperkirakan tidak hanya mengganggu produksi pangan domestik, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasar pangan global. FAO mengingatkan bahwa melemahnya monsun musim panas di India dapat menekan produksi tanaman tadah hujan seperti padi dan jagung pada musim tanam yang krusial.
Pengalaman El Nino 2015 menjadi pelajaran penting. Saat itu, produksi jagung dan padi di sejumlah negara produsen utama mengalami penurunan sehingga mendorong kenaikan harga komoditas pangan dunia.
"Kali ini, risiko kekeringan pertanian meluas dari Pakistan dan India hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Timor-Leste," demikian FAO dalam analisisnya, dikutip Rabu (1/7).
