Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Harga Bahan Baku Naik, Produksi Manufaktur Terpengaruh
ilustrasi pabrik, perusahaan manufaktur (commons.wikimedia.org/Chris from Shenzhen, China)
  • PMI Manufaktur Indonesia naik ke 50,0 pada Mei 2026, menandakan stabilisasi setelah kontraksi, meski sektor masih tertekan oleh lonjakan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan.
  • Kenaikan biaya produksi mencapai rekor tertinggi sejak 2013, mendorong produsen menaikkan harga jual dan mengurangi pembelian bahan baku baru akibat sulitnya pasokan.
  • Permintaan domestik meningkat dua bulan berturut-turut sementara ekspor melemah tiga bulan beruntun; optimisme industri tetap ada meski keyakinan bisnis di bawah rata-rata historis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun sektor manufaktur masih menghadapi tekanan biaya dan pasokan, data menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dengan PMI yang kembali ke level 50, menandakan kondisi operasional mulai seimbang. Peningkatan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut mencerminkan daya tahan permintaan domestik, sementara optimisme pelaku industri terhadap perbaikan kondisi harga dan pasokan memperlihatkan keyakinan akan potensi pemulihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kinerja industri manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan pada Mei 2026. Di tengah perbaikan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru, lonjakan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan justru membebani aktivitas produksi.

Data terbaru S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari 49,1 pada April menjadi 50,0 pada Mei. Angka tersebut menandakan kondisi operasional pada sektor manufaktur relatif stabil setelah sempat mengalami kontraksi.

Namun, di balik stabilisasi tersebut, pelaku industri masih bergulat dengan kenaikan biaya produksi yang mencapai salah satu level tertinggi dalam sejarah survei. Kondisi ini turut memengaruhi volume output manufaktur yang kembali menurun selama tiga bulan berturut-turut.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan sektor manufaktur Indonesia masih berada dalam tekanan akibat mahalnya harga bahan baku dan terbatasnya ketersediaan input produksi.

“Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama bulan Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata Usamah dalam keterangannya Selasa (2/6).

Menurut dia, meskipun perusahaan mencatat peningkatan penjualan, sebagian besar kenaikan tersebut dipicu oleh langkah pelanggan yang mempercepat pembelian untuk membangun persediaan di tengah ketidakpastian harga dan pasokan.

Di sisi lain, pemulihan permintaan masih bertumpu pada pasar domestik. Pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut dan mencatat laju pertumbuhan tercepat sejak Februari. Sebaliknya, pasar ekspor justru melemah.

Penjualan internasional turun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi terdalam sejak Agustus 2021. Sejumlah pelaku usaha mengaitkan penurunan permintaan dari luar negeri dengan dampak konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga yang mengurangi daya beli konsumen global.

Kondisi tersebut membuat perbaikan permintaan belum mampu mendorong peningkatan produksi. S&P Global mencatat output manufaktur kembali turun pada Mei, meskipun laju penurunannya lebih lambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Tekanan juga datang dari sisi biaya. Inflasi harga input melonjak tajam dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah survei, melampaui rekor yang sebelumnya tercatat pada September 2013. Mayoritas perusahaan melaporkan kenaikan harga bahan baku sebagai penyebab utama lonjakan biaya operasional.

Untuk menjaga margin usaha, produsen mulai meneruskan sebagian beban tersebut kepada konsumen. Akibatnya, harga jual produk manufaktur meningkat dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.

Lonjakan harga dan terbatasnya pasokan bahan baku juga memengaruhi aktivitas pembelian perusahaan. Banyak produsen mengurangi pembelian bahan baku baru dan memanfaatkan persediaan yang sudah tersedia karena kesulitan memperoleh pasokan dari pemasok.

Situasi ini turut berdampak pada pasar tenaga kerja. Seiring menurunnya kebutuhan produksi, jumlah pekerja di sektor manufaktur kembali berkurang pada Mei.

Meski demikian, pelaku industri masih mempertahankan optimisme terhadap prospek 12 bulan mendatang. Harapan tersebut ditopang ekspektasi bahwa tekanan harga bahan baku dan gangguan pasokan akan mulai mereda.

Namun demikian, tingkat keyakinan dunia usaha masih berada di bawah rata-rata historis. Menurut Usamah, ketidakpastian mengenai kapan kondisi pasokan dan harga akan kembali normal membuat pelaku industri tetap berhati-hati dalam menyusun rencana ekspansi.

“Optimisme didorong harapan bahwa tekanan harga bahan baku dan pasokan akan reda, meskipun waktu pemulihan masih tidak pasti mengingat kondisi saat ini,” ujarnya.

 

Apakah industri manufaktur Indonesia bisa segera pulih?

Editorial Team

Related Article