Jakarta, FORTUNE – Harga minyak mentah kembali menguat setelah tiga sesi perdagangan berada dalam tren penurunan. Penguatan terjadi ketika harapan terhadap kemajuan diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran meredup, sehingga investor kembali memperhitungkan risiko terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kontrak berjangka Brent ditutup naik 2,1 persen atau US$1,86 menjadi US$89,70 per barel pada Kamis, 27 Agustus 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,6 persen atau US$1,30 menjadi US$83,53 per barel.
Kenaikan tersebut mengakhiri penurunan harga selama tiga hari berturut-turut. Reuters melaporkan penguatan terjadi pascapemerintahan Presiden AS Donald Trump tidak berminat menghidupkan kembali ketentuan kesepakatan yang dicapai dengan Iran pada Juni. Sikap tersebut dinilai memperumit upaya sejumlah mediator untuk membuka kembali perundingan kedua negara.
Investor sebelumnya berharap kemajuan diplomatik dapat membuka jalan bagi peningkatan arus minyak dari kawasan Timur Tengah. Ketika peluang tersebut mengecil, premi risiko geopolitik kembali masuk ke harga minyak.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan perubahan ekspektasi pasar tersebut berkaitan dengan minimnya perkembangan dalam perundingan dan masih terbatasnya arus pasokan. "Kurangnya kemajuan dalam pembicaraan, ditambah arus pasokan yang terus terbatas, kemungkinan mendorong pasar menyesuaikan kembali pandangannya," kata Staunovo.
Washington pada Kamis juga mengonfirmasi bahwa AS tidak sedang melakukan pembicaraan langsung dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan ketika sejumlah negara berupaya menjadi perantara untuk mempertemukan kembali kedua pihak.
Trump bahkan menegaskan pemerintahannya tidak sedang mencari pertemuan dengan Teheran. "Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami juga tidak sedang mencari pertemuan atau semacamnya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump mengatakan AS memilih mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington juga memperingatkan negara-negara yang melakukan transaksi dengan Iran akan menghadapi sanksi.
Pada awal pekan, AS mengumumkan paket sanksi yang disebut sebagai salah satu langkah tekanan ekonomi paling keras terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan tekanan tersebut dapat mengurangi kebutuhan Washington melakukan operasi militer besar baru.
Di sisi lain, Iran menolak langkah tersebut. Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyebut sanksi AS sebagai tindakan "tidak manusiawi dan bermusuhan", meskipun ia menilai efektivitas sanksi tersebut semakin berkurang.
Perdana Menteri Qatar juga mendatangi Teheran pada Kamis untuk mendorong pembukaan kembali jalur diplomasi. Kunjungan tersebut berlangsung menjelang enam bulan sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai.
Upaya diplomasi tersebut belum menghilangkan risiko terhadap pasar energi. Pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei memperingatkan Teheran dapat menargetkan kepentingan militer dan ekonomi AS apabila Washington melakukan "ulah" selama pembicaraan dengan pejabat Qatar.
