Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Properti Residensial Naik pada Tengah 2026, Penjualan Mulai Membaik

Harga Properti Residensial Naik pada Tengah 2026, Penjualan Mulai Membaik
ilustrasi jual beli rumah, KPR (magnific.com/jcomp)
Intinya Sih
  • IHPR pasar primer triwulan II-2026 naik 0,69% secara tahunan menjadi 110,89, didorong harga rumah tipe besar; pertumbuhan rumah kecil melambat.
  • Dari 18 kota sampel, 10 mencatat akselerasi harga; Banjarmasin naik 1,29% dan Pekanbaru 3,23%, sementara Padang serta Balikpapan melambat.
  • Penjualan residensial masih terkontraksi 2,36% YoY, tetapi membaik dari 25,67%; KPR mendominasi 70,05% transaksi, di tengah kendala biaya material, bunga, perizinan, uang muka, dan pajak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Tren kenaikan harga properti residensial di pasar primer terus berlanjut hingga pertengahan 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II-2026 berada pada level 110,89 atau tumbuh 0,69 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja ini terakselerasi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I-2026 yang mencapai 0,62 persen (YoY).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan penguatan IHPR terutama didorong oleh kenaikan harga rumah tipe besar.

Indeks harga rumah tipe besar 108,41 atau tumbuh 0,68 persen (YoY). Sementara itu, indeks harga rumah tipe menengah mencapai 114,01 dengan laju pertumbuhan relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Sebaliknya, indeks harga rumah tipe kecil berada pada level 113,89, meski tumbuh melambat 0,49 persen (YoY).

Secara spasial, dinamika harga properti bergerak bervariasi di berbagai daerah. Pemantauan bank sentral menunjukkan pergerakan yang dinamis pada 18 kota sampel.

“Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 10 kota mengalami peningkatan pertumbuhan IHPR secara tahunan, tujuh kota mengalami penurunan pertumbuhan, dan satu kota mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil,” jelas Ramdan melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (10/8).

Peningkatan pertumbuhan harga rumah paling menonjol terjadi di Banjarmasin, yakni mencapai 1,29 persen (YoY) pada triwulan II-2026, melompat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 0,52 persen (YoY). Perbaikan signifikan juga terjadi di Pekanbaru dengan pertumbuhan 3,23 persen (YoY), membalikkan keadaan setelah sempat terkontraksi 0,03 persen (YoY).

Di sisi lain, laju harga rumah di Padang dan Balikpapan justru mengalami penyesuaian. Pertumbuhan harga di Padang melambat menjadi 0,63 persen (YoY) dari sebelumnya 1,21 persen (YoY). Begitu pula dengan Balikpapan yang melambat ke level 1,19 persen (YoY) dari sebelumnya 1,44 persen (YoY).

Dari segi pembiayaan konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan masih menjadi penopang utama transaksi di pasar primer. Segmen ini memegang pangsa dominan 70,05 persen dari total skema pembelian. Sementara itu, opsi pembayaran tunai bertahap dan tunai keras masing-masing mencatatkan porsi 20,60 persen dan 9,35 persen.

Meskipun harga mengalami tren kenaikan, kinerja penjualan properti residensial di pasar primer mengindikasikan pemulihan yang menggembirakan. Walau secara keseluruhan masih terkontraksi 2,36 persen (YoY), angka ini membaik drastis dibandingkan dengan kontraksi dalam pada triwulan I-2026 yang sebesar 25,67 persen (YoY).

Pemulihan penjualan tersebut utamanya disokong oleh peningkatan permintaan rumah tipe kecil dan tipe besar, sedangkan penjualan tipe menengah masih terbatas.

Di balik sinyal pemulihan ini, para pengembang dan penjual properti di pasar primer masih dihadapkan pada sejuta tantangan. Hasil survei BI mengidentifikasi lima kendala utama pengembang, yaitu kenaikan harga bahan bangunan (27,10 persen), tingkat suku bunga KPR (15,96 persen), hambatan perizinan dan birokrasi (14,87 persen), tingginya proporsi uang muka KPR (11,53 persen), serta masalah perpajakan (9,75 persen).

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More