Jakarta, FORTUNE - PT KAI Properti akan mengembangkan hunian vertikal atau rusun berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.
Pengembangan rusun tersebut akan dilakukan di atas lahan milik KAI berstatus Hak Pakai KAI. Adapun, luas lahan tersebut sekitar 2,1 hektar atau 21.939 meter persegi, yang terdiri dari Blok G seluas sekitar 6.925 meter persegi dan Blok F seluas sekitar 15.014 meter persegi
Berdasarkan rencana pengembangan kawasan, KAI akan membangun delapan tower hunian vertikal yang terdiri dari 3 tower di Blok G dan 5 tower di Blok F. Setiap tower direncanakan memiliki 12 lantai, dengan total 3.740 unit hunian serta dilengkapi 150 unit ruang retail untuk mendukung aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.
Direktur Utama KAI Properti, Mohamad Ramdany, menjelaskan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan properti dan pengelolaan kawasan berbasis transportasi, perusahaan akan mengoptimalkan lahan milik perseroan di sekitar stasiun. Salah satu yang sedang disiapkan yaitu lahan di sekitar Stasiun Manggarai.
“Peninjauan hari ini menjadi bagian penting bagi KAI Properti untuk melihat secara langsung kesiapan lokasi dan memastikan rencana pengembangan kawasan dapat berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan," ujar Ramdany dalam peninjauan di kawasan Stasiun Manggarai, dikutip melalui keterangan tertulisnya, Rabu (19/8).
Peninjauan lokasi tersebut turut dihadiri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait serta Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin.
Pada tahap awal, pengembangan Blok G ditargetkan mulai pada Agustus 2026, dilanjutkan dengan Blok F pada Oktober 2026.
Konsep TOD akan diterapkan dengan mengintegrasikan kawasan hunian dengan jaringan transportasi publik serta berbagai aktivitas masyarakat. Lokasi proyek berjarak sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai dan dirancang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar empat menit.
Penataan kawasan juga akan mencakup area pedestrian, ruang terbuka hijau, serta fasilitas komunal untuk mendukung mobilitas dan aktivitas penghuni. Selain itu, lokasi hunian berada dekat dengan sejumlah fasilitas publik, mulai dari pendidikan, kesehatan, perdagangan hingga transportasi publik yang tersebar dalam radius sekitar tiga kilometer.
Menurut Ramdany, pengembangan hunian vertikal tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengoptimalkan aset lahan milik KAI, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan perseroan terhadap program pemerintah dalam penyediaan hunian.
"Kami berharap pengembangan hunian berbasis TOD ini dapat menghadirkan lingkungan tempat tinggal yang terhubung dengan berbagai pusat aktivitas dan simpul transportasi. Kami juga terus memastikan kesiapan proyek agar dapat berjalan sesuai rencana," pungkas Ramdany.
