Pendapatan Semester I-2026 KAI Naik, Tapi Labanya Tergerus Whoosh

Pendapatan KAI Semester I-2026 naik 6,61 persen menjadi Rp17,96 triliun, dengan laba bruto dan laba usaha turut tumbuh berkat penguatan bisnis inti.
Laba bersih yang diatribusikan ke induk merosot sekitar 75 persen menjadi Rp305,37 miliar akibat rugi entitas asosiasi dan ventura bersama Rp2,99 triliun, termasuk investasi Whoosh.
KAI melayani 258,99 juta pelanggan dan mengangkut 32,50 juta ton barang; aset mencapai Rp104,79 triliun, sementara liabilitas turun dan ekuitas meningkat.
Jakarta, FORTUNE – Pendapatan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pada paruh pertama tahun ini mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya jumlah penumpang dan volume angkutan barang.
Namun, kinerja operasional yang membaik belum mampu mengangkat laba bersihnya karena terbebani oleh lonjakan kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama, termasuk investasi pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).
Laporan keuangan KAI Group pada semester I-2026 (unaudited) menunjukkan capaian pendapatan Rp17,96 triliun, meningkat 6,61 persen dibandingkan dengan Rp16,85 triliun pada periode sama tahun lalu.
Perbaikan juga tecermin pada profitabilitas operasional. Laba bruto naik 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun dari Rp5,72 triliun, sedangkan laba usaha tumbuh 25,79 persen menjadi Rp4,66 triliun dari Rp3,71 triliun.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan penguatan bisnis inti perusahaan yang ditopang peningkatan layanan, produktivitas, pengelolaan biaya, dan sinergi seluruh entitas usaha.
"Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," kata Anne dalam keterangan tertulis, Senin (3/8).
Meski demikian, perbaikan kinerja operasional tidak berlanjut hingga laba bersih. Laba sebelum pajak anjlok 54,6 persen menjadi Rp842,69 miliar, dari Rp1,86 triliun pada semester I-2025. Setelah dikurangi beban pajak, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hanya tersisa Rp305,37 miliar, merosot sekitar 75 persen dibandingkan dengan Rp1,17 triliun pada periode sama tahun lalu.
Penyebab utama penurunan laba berasal dari membengkaknya bagian rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama yang melonjak menjadi Rp2,99 triliun, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan Rp948,19 miliar pada semester I-2025.
Kerugian tersebut menyerap sebagian besar keuntungan yang dihasilkan dari bisnis operasional KAI.
Salah satu sumber tekanan berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium BUMN yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator kereta cepat Whoosh. Besarnya kerugian dari entitas asosiasi menunjukkan beban investasi proyek kereta cepat masih membayangi kinerja konsolidasian KAI.
Penumpang dan angkutan barang terus tumbuh

Di tengah tekanan laba bersih, aktivitas operasional KAI terus menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang semester I-2026, KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan dengan 240,81 juta pelanggan pada periode sama tahun lalu.
Layanan tersebut mencakup kereta komersial, Public Service Obligation (PSO), kereta api perintis, serta berbagai penugasan pemerintah.
Sebanyak 235,14 juta pelanggan atau 90,79 persen dari total penumpang berasal dari layanan yang mendapatkan dukungan pemerintah melalui skema PSO, KA Perintis, maupun penugasan khusus.
Anne mengatakan tingginya porsi layanan bersubsidi menunjukkan peran strategis KAI dalam menyediakan transportasi publik yang terjangkau sekaligus menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.
Selain angkutan penumpang, bisnis logistik juga menjadi penopang pertumbuhan perseroan. Selama semester I-2026, KAI mengangkut 32,50 juta ton barang, terdiri atas 26,53 juta ton batu bara dan 5,96 juta ton komoditas non-batu bara, seperti peti kemas, semen, bahan bakar, hasil perkebunan, hingga komoditas industri lainnya.
Untuk memperkuat kapasitas logistik, KAI telah mendatangkan 1.080 gerbong datar guna meningkatkan angkutan barang di Sumatra. Perseroan juga mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo dengan kapasitas hingga 800 ton per rangkaian.
Sementara itu, volume angkutan peti kemas sepanjang semester I-2026 mencapai 2,62 juta ton.
Dari sisi neraca, posisi keuangan KAI relatif tetap terjaga. Hingga 30 Juni 2026, total aset KAI Group mencapai Rp104,79 triliun. Total liabilitas turun menjadi Rp65,11 triliun dari Rp66,14 triliun pada akhir 2025, sementara ekuitas meningkat dari Rp39,29 triliun menjadi Rp39,69 triliun.






















