Jakarta, FORTUNE - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan segera melakukan proses penerbitan Panda Bond atau obligasi berdenominasi yuan (renminbi) di pasar keuangan domestik Cina pada pekan depan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa proses penerbitan ini telah mendapat dukungan dari Kementerian Keuangan Cina.
“Dan rupanya Kementerian Cina itu penguasa banyak BUMN Cina termasuk CITIC (China International Trust Investment Corporation) dan lain lain yang punya dana besar. Sehingga dukungan dari Kementerian Keuangan Cina amat penting untuk kesuksesan penerbitan panda bond,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (19/6).
Dalam agenda pertemuan dengan Kementerian Keuangan Cina, Purbaya juga meluruskan informasi mengenai kondisi fiskal Indonesia.
“Tadinya mereka juga khawatir atau mendengar informasi yang salah tentang kondisi fiskal Indonesia. Tapi saya jelaskan tadi bahwa kondisi fiskal Indonesia amat baik, defisit terkendali, pertumbuhan bagus, income dari pajak juga meningkat, sehingga mereka yakin bahwa memang kondisi ekonomi di Indonesia memang baik,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Cina, Menkeu juga telah mengamankan dukungan dari People’s Bank of China (PBOC) atau Bank Central Cina dan AIIB.
“Bahkan ketika bertemu PBOC, kami meminta percepatan perizinan, mereka menyampaikan bahwa begitu dokumen pengajuan resmi masuk, prosesnya akan segera dipercepat,” katanya.
Bahkan, dari pertemuan dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Menteri Keuangan juga berhasil mengamankan komitmen pendanaan senilai US$17 miliar untuk mendukung berbagai proyek pembangunan nasional selama 2025-2029.
Menkeu menjelaskan bahwa penerbitan Panda Bond ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan pembangunan nasional agar tidak bergantung pada satu mata uang atau satu pasar keuangan tertentu.
“Kita ingin diversifikasi sumber pendanaan pembangunan sehingga tidak dipengaruhi oleh satu sumber mata uang saja. Ini juga sejalan dengan kerja sama transaksi mata uang lokal yang sudah terjalin antara Indonesia dan Cina,” ujar Purbaya.
Sebelumnya, Purbaya mengatakan bahwa penerbitan obligasi di pasar domestik China juga menguntungkan karena menawarkan imbal hasil (yield) yang kompetitif, yakni sekitar 2,3 persen hingga 2,5 persen. Selain itu, Cina juga dinilai memiliki likuiditas besar yang mampu menyerap instrumen utang pemerintah Indonesia.
