Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Mineral Kritis Jadi Rebutan Dunia, RI Punya Peluang Besar

Mineral Kritis Jadi Rebutan Dunia, RI Punya Peluang Besar
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti/Dok. Fortune Indonesia
Intinya Sih
  • Permintaan global terhadap mineral kritis meningkat pesat seiring transisi menuju energi bersih, menjadikannya faktor strategis bagi daya saing industri dan ketahanan energi dunia.
  • Indonesia memiliki cadangan besar mineral kritis seperti nikel, kobalt, dan tembaga yang membuka peluang ekonomi besar jika dikelola dengan strategi hilirisasi berkelanjutan.
  • Pemerintah didorong memperkuat kebijakan jangka panjang untuk menjaga rantai pasok mineral kritis agar transisi energi tidak menciptakan ketergantungan baru pada negara atau komoditas tertentu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Mineral kritis semakin menempati posisi strategis dalam perekonomian global. Komoditas ini tidak lagi dipandang hanya sebagai hasil tambang, melainkan menjadi faktor penting yang memengaruhi daya saing industri, ketahanan energi, dan posisi suatu negara dalam rantai pasok global di tengah percepatan transisi menuju energi bersih.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap energi rendah karbon membuat permintaan mineral kritis terus bertambah. Kondisi tersebut menuntut negara-negara pemilik sumber daya untuk menjadikan pengelolaan mineral kritis sebagai bagian dari strategi industrialisasi jangka panjang.

“Mineral kritis tidak hanya dipandang sebagai suatu komoditas saja, tetapi mineral kritis ini sudah menjadi aset yang menentukan apakah daya saing industri kita itu mampu bersaing di ekonomi global, apakah mineral kritis ini bisa mendorong kemandirian energi dan seterusnya,” kata Esther dalam Serial Dialog Mineral Kritis bertema Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, Rabu (17/6).

Mineral kritis merupakan kelompok komoditas yang memiliki peran penting bagi sektor industri, perekonomian, dan keamanan energi, tetapi rentan terhadap gangguan pasokan serta sulit digantikan oleh bahan lain. Di Indonesia, kelompok mineral ini mencakup nikel, kobalt, tembaga, timah, bauksit, mangan, lithium, silika, hingga logam tanah jarang.

Berbagai mineral tersebut menjadi bahan baku utama dalam pengembangan teknologi energi bersih, seperti baterai kendaraan listrik, panel surya, jaringan transmisi listrik, perangkat elektronik, serta berbagai infrastruktur pendukung dekarbonisasi.

Menurut Esther, Indonesia berada pada posisi yang menguntungkan karena memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan yang tepat agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

“Indonesia punya peluang besar karena memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, potensi yang besar itu juga diiringi tantangan yang harus dimitigasi risikonya sejak sekarang,” katanya.

Ia menjelaskan kebutuhan mineral kritis diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi rendah karbon yang membutuhkan material jauh lebih banyak dibandingkan teknologi berbasis bahan bakar fosil.

“Produk-produk teknologi rendah karbon itu sebagai infrastruktur untuk transisi menuju energi bersih. Namun, kita juga melihat bahwa produk-produk ini sebenarnya membutuhkan enam kali lipat kebutuhan mineral kritis,” kata Esther.

Meski demikian, Esther menekankan bahwa upaya mendorong transisi energi harus dilakukan secara terukur agar tidak memunculkan ketergantungan baru. Menurutnya, dunia perlu menghindari situasi ketika ketergantungan terhadap energi fosil bergeser menjadi ketergantungan terhadap pasokan mineral tertentu atau negara pemasok tertentu.

Untuk itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat kebijakan jangka panjang yang mendukung ketahanan rantai pasok mineral kritis, meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan, serta mengantisipasi berbagai risiko yang dapat muncul seiring meningkatnya permintaan global.

“Oleh karena itu kami melihat jangan sampai dukungan untuk menuju transisi menuju energi bersih ini menciptakan ketergantungan baru. Tidak hanya ketergantungan pada satu mineral kritis dari suatu negara, tetapi kita juga harus mitigasi risikonya seperti apa ke depannya,” katanya.

Di tengah meningkatnya persaingan global untuk mengamankan pasokan mineral strategis, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai industri energi bersih. Namun, keberhasilan memanfaatkan peluang tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku industri dalam mengelola sumber daya mineral secara berkelanjutan sekaligus mendorong hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More