Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Industri TPT Tumbuh 6,36 Persen, Investasi Tembus Rp11,4 Triliun

Industri TPT Tumbuh 6,36 Persen, Investasi Tembus Rp11,4 Triliun
Pabrik tekstil PT Trisula International Tbk (TRIS).
Intinya Sih
  • Industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen secara tahunan pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen dan industri pengolahan nonmigas 5,32 persen.
  • Investasi TPT mencapai Rp11,4 triliun pada semester I-2026, naik 11,85 persen secara tahunan, dengan kenaikan investasi pada industri tekstil maupun pakaian jadi.
  • Ekspor TPT Januari–Mei 2026 naik 1,57 persen menjadi US$4,85 miliar, sementara impor meningkat lebih cepat; sektor ini masih mencatat surplus perdagangan US$1,27 miliar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menunjukkan pemulihan. Sepanjang triwulan II-2026, sektor tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional maupun industri pengolahan nonmigas.

Pada saat yang sama, investasi sektor tersebut juga meningkat menjadi Rp11,4 triliun pada semester I-2026.

Berdasarkan data yang disampaikan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi mencapai 6,36 persen pada triwulan II-2026, naik dari 4,35 persen pada periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut mencerminkan akselerasi 2,01 poin persentase dalam setahun.

Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen maupun industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen.

Wakil Ketua Umum API, Ian Syarif, mengatakan kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa industri tekstil nasional terus bergerak menuju fase pemulihan yang lebih solid setelah menghadapi berbagai tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

"Pertumbuhan 6,36 persen menunjukkan bahwa industri tekstil dan pakaian jadi masih memiliki daya tahan dan ruang ekspansi. Setelah menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir, industri ini kembali tumbuh lebih cepat daripada perekonomian nasional dan industri pengolahan nonmigas," kata Ian dalam keterangannya Kamis (6/8).

Menurutnya, pertumbuhan tersebut didukung oleh sejumlah indikator lain, mulai dari meningkatnya investasi, ekspor yang tetap tumbuh, surplus neraca perdagangan, hingga besarnya jumlah tenaga kerja yang masih diserap sektor tekstil dan pakaian jadi.

Salah satu indikator yang mencerminkan optimisme pelaku usaha adalah peningkatan investasi.

Secara kumulatif hingga semester I-2026, investasi industri tekstil dan pakaian jadi mencapai Rp11,40 triliun atau meningkat 11,85 persen dibandingkan Rp10,19 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Perinciannya, investasi pada industri tekstil meningkat dari Rp6,05 triliun menjadi Rp6,78 triliun. Sementara itu, investasi pada industri pakaian jadi naik dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun.

Ian menilai kenaikan investasi tersebut menunjukkan pelaku industri masih percaya terhadap prospek jangka panjang sektor TPT Indonesia.

"Pertumbuhan investasi sebesar 11,85 persen merupakan indikator penting karena menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek pasar dan basis produksi Indonesia. Investasi tersebut diperlukan untuk menambah kapasitas, memodernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, dan memenuhi standar keberlanjutan pasar global," katanya.

Ia menambahkan, investasi pada industri TPT memiliki efek berganda yang luas karena mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari industri serat, pemintalan, pertenunan, perajutan, pencelupan dan penyempurnaan kain, hingga produksi pakaian jadi.

Selain investasi, kinerja perdagangan luar negeri juga tetap positif. Nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi pada periode Januari–Mei 2026 mencapai US$4,85 miliar, meningkat 1,57 persen dibandingkan dengan US$4,77 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Namun, pada saat yang sama, impor juga meningkat dari US$3,41 miliar menjadi US$3,58 miliar. Meski demikian, industri TPT masih mengalami surplus neraca perdagangan US$1,27 miliar, meski lebih rendah dibandingkan surplus US$1,37 miliar pada Januari–Mei 2025.

Ian mengatakan surplus tersebut menunjukkan industri TPT masih menjadi salah satu penyumbang devisa bagi Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap perlu mewaspadai laju impor yang tumbuh lebih cepat ketimbang ekspor.

"Surplus US$1,27 miliar membuktikan bahwa industri TPT masih menjadi penghasil devisa. Akan tetapi, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa impor tumbuh lebih cepat dan surplus mengalami penyempitan. Karena itu, peningkatan ekspor harus dibarengi penguatan pasar domestik serta pengawasan terhadap impor ilegal dan praktik perdagangan tidak sehat," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More