Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Konsumsi BBM Subsidi Melonjak Usai Harga Non-Subsidi Naik
Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
  • Kenaikan harga BBM non-subsidi mendorong masyarakat beralih ke BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, menyebabkan lonjakan konsumsi signifikan sepanjang Juli 2026.
  • Hingga Juni 2026, penyaluran solar subsidi mencapai 9,48 juta KL dan Pertalite 13,96 juta KL, masing-masing sekitar separuh dari kuota tahunan yang ditetapkan APBN.
  • Porsi Pertalite naik menjadi 80,3 persen dari total bensin setelah kenaikan harga Pertamax, sementara konsumsi Pertamax Series dan Dex Series menurun cukup tajam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lonjakan konsumsi BBM bersubsidi setelah kenaikan harga non-subsidi menunjukkan kemampuan sistem energi nasional beradaptasi terhadap perubahan pasar. Pertamina Patra Niaga dan BPH Migas berhasil menjaga stok serta distribusi tetap aman, dengan cadangan hingga 40 hari. Kondisi ini mencerminkan kesiapan infrastruktur dan komitmen kuat dalam menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga mencatat terjadinya migrasi pengguna dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi, terutama Pertalite dan Biosolar, sehingga konsumsi kedua jenis bahan bakar tersebut melonjak sepanjang Juli 2026.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengatakan tren peralihan tersebut mulai terlihat setelah penyesuaian harga BBM umum (JBU), seperti Pertamax dan Dex Series.

"Masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM non-subsidi menjadi subsidi," kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7).

Perubahan pola konsumsi itu juga tecermin pada realisasi penyaluran BBM bersubsidi sepanjang semester I-2026. Hingga Juni 2026, penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) berupa minyak solar telah mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85 persen dari kuota APBN 2026 sebesar 18,64 juta KL.

Sementara itu, penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite mencapai 13,96 juta KL atau 47,68 persen dari kuota tahunan 29,27 juta KL.

Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan lonjakan konsumsi menjadi lebih nyata pada Juli 2026.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan penyaluran Pertalite mencapai 104 persen dari rata-rata konsumsi normal, sedangkan Biosolar mencapai 105 persen.

Menurut dia, peningkatan tersebut masih dapat dipenuhi karena kondisi stok BBM nasional tetap aman. Rata-rata cadangan BBM berada pada kisaran 14 hingga 40 hari, tergantung jenis produk dan wilayah, sedangkan stok Pertalite dan Biosolar terjaga sekitar 15 hari.

"Dari proyeksi supply-demand beberapa bulan ke depan, secara umum kebutuhan produk masih dapat dipenuhi. Kami berkomitmen menjaga tiga hal utama, yakni ketersediaan produk, kelancaran distribusi, dan ketepatan sasaran penyaluran," ujar Taufik.

Pertalite kuasai 80 persen konsumsi bensin

Petugas melayani pembeli BBM jenis Pertalite di salah satu SPBU Pertamina. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, memaparkan pergeseran konsumsi terjadi secara signifikan setelah harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026.

Porsi Pertalite terhadap total konsumsi bensin meningkat dari 75,4 persen pada periode Januari–Mei menjadi 80,3 persen pada Juli.

Sebaliknya, pangsa Pertamax turun dari 23,2 persen menjadi 18,8 persen.

Perubahan komposisi tersebut membuat rata-rata penyaluran Pertalite pada Juli meningkat 9,4 persen atau bertambah 7.129 KL per hari dibandingkan dengan kondisi normal.

Di sisi lain, konsumsi Pertamax Series—yang meliputi Pertamax, Pertamax Green 95, dan Pertamax Turbo—merosot hingga 18 persen, atau berkurang sekitar 4.476 KL per hari dari rata-rata normal.

Fenomena serupa terjadi pada BBM diesel. Pangsa Biosolar terhadap total konsumsi gasoil naik dari 93 persen menjadi 94,2 persen, sedangkan Dexlite turun dari 4,1 persen menjadi 3,5 persen.

Akibatnya, penyaluran Biosolar pada Juli melonjak 13,9 persen atau bertambah sekitar 6.725 KL per hari dibandingkan rata-rata normal. Sebaliknya, konsumsi Dex Series (Dexlite dan Pertamina Dex) turun 6,4 persen atau berkurang sekitar 232 KL per hari. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article