Jakarta, FORTUNE – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga mencatat terjadinya migrasi pengguna dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi, terutama Pertalite dan Biosolar, sehingga konsumsi kedua jenis bahan bakar tersebut melonjak sepanjang Juli 2026.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengatakan tren peralihan tersebut mulai terlihat setelah penyesuaian harga BBM umum (JBU), seperti Pertamax dan Dex Series.
"Masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM non-subsidi menjadi subsidi," kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7).
Perubahan pola konsumsi itu juga tecermin pada realisasi penyaluran BBM bersubsidi sepanjang semester I-2026. Hingga Juni 2026, penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) berupa minyak solar telah mencapai 9,48 juta kiloliter (KL) atau 50,85 persen dari kuota APBN 2026 sebesar 18,64 juta KL.
Sementara itu, penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite mencapai 13,96 juta KL atau 47,68 persen dari kuota tahunan 29,27 juta KL.
Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan lonjakan konsumsi menjadi lebih nyata pada Juli 2026.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan penyaluran Pertalite mencapai 104 persen dari rata-rata konsumsi normal, sedangkan Biosolar mencapai 105 persen.
Menurut dia, peningkatan tersebut masih dapat dipenuhi karena kondisi stok BBM nasional tetap aman. Rata-rata cadangan BBM berada pada kisaran 14 hingga 40 hari, tergantung jenis produk dan wilayah, sedangkan stok Pertalite dan Biosolar terjaga sekitar 15 hari.
"Dari proyeksi supply-demand beberapa bulan ke depan, secara umum kebutuhan produk masih dapat dipenuhi. Kami berkomitmen menjaga tiga hal utama, yakni ketersediaan produk, kelancaran distribusi, dan ketepatan sasaran penyaluran," ujar Taufik.
