Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
BUMN Blue Chip Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, namun kontribusi BUMN masih didominasi oleh kelompok blue chip di sektor perbankan, energi, telekomunikasi, dan pertambangan.
  • Toto Pranoto menilai transformasi BUMN belum merata karena peran strategis masih terkonsentrasi pada pemain besar seperti MIND ID, Pertamina, dan Telkom Indonesia.
  • Kontribusi BUMN bisa meningkat jika investasi di sektor hilir bernilai tambah tinggi dipercepat, termasuk proyek baterai kendaraan listrik melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Di balik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026, kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai masih belum merata. Pertumbuhan ekonomi nasional disebut masih terlalu bergantung pada kelompok BUMN blue chip, sementara banyak perusahaan pelat merah di luar sektor unggulan dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.

Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia, Toto Pranoto, mengatakan motor utama pertumbuhan ekonomi sejauh ini masih berasal dari BUMN besar di sektor perbankan, energi, telekomunikasi, dan pertambangan.

“Bank-bank Himbara berperan dalam menjaga likuiditas dan pembiayaan ekonomi nasional yang menjadi motor penting pertumbuhan konsumsi dan investasi,” ujar Toto dalam keterangannya, dikutip Rabu (13/5).

Menurut Toto, kontribusi ekspor dan penerimaan devisa dari sektor tambang melalui MIND ID turut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Selain itu, Toto menilai peran PT Pertamina dan PT Telkom Indonesia juga sangat signifikan dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional.

Toto mengatakan, kedua perusahaan pelat merah tersebut mampu menciptakan efek berganda melalui penguatan sektor energi dan konektivitas digital yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi modern.

Ia menambahkan, kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional seharusnya dapat lebih besar apabila investasi di sektor hilir dengan nilai tambah tinggi dipercepat. Salah satu contohnya adalah pengembangan industri baterai kendaraan listrik melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC).

“Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar," kata Toto.

Di sisi lain, Toto menilai fokus Danantara Indonesia yang masih berkutat pada restrukturisasi sejumlah BUMN turut mempengaruhi belum optimalnya kontribusi perusahaan negara secara keseluruhan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat perusahaan-perusahaan BUMN yang menonjol masih berasal dari sektor-sektor unggulan lama.

"Setelah ada Danantara, BUMN yang berkibar relatif ada di sektor blue chip saja. Danantara juga di periode ini sibuk dengan restrukturisasi, misal Garuda atau beberapa BUMN Karya," ujar Toto.

Editorial Team