Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI Soroti Kredit Tumbuh 13,6%, Melampaui DPK pada Juli 2026
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan kredit perbankan dan dana pihak ketiga (DPK). Dok Fortune Indonesia
  • Kredit perbankan tumbuh 13,6 persen secara tahunan pada Juli 2026, melampaui pertumbuhan DPK sebesar 11,21 persen.
  • BI melihat likuiditas perbankan masih tersegmentasi, meski pertumbuhan M0 pada Juli-Agustus 2026 berada di atas 15 persen.
  • BI menyiapkan kebijakan pemerataan likuiditas melalui insentif KLM untuk mendorong penyaluran kredit sektor prioritas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?
Vote Now
Juli 2026

Kredit perbankan tumbuh 13,6 persen secara tahunan, sementara DPK tumbuh 11,21 persen.

Juli-Agustus 2026

Pertumbuhan uang primer atau M0 berada di atas 15 persen.

Kamis (3/9)

Destry Damayanti mengungkapkan kesenjangan pertumbuhan kredit perbankan dan DPK di Jakarta.

September 2026

Insentif KLM sebesar 2 persen mulai diberikan kepada bank yang tidak terlalu banyak menempatkan dana di SRBI dan SBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?
Vote Now
  • What?
    Pertumbuhan kredit perbankan 13,6 persen pada Juli 2026 melampaui pertumbuhan DPK 11,21 persen.
  • Who?
    Gubernur BI Destry Damayanti dan Bank Indonesia.
  • Where?
    Jakarta.
  • When?
    Juli 2026 untuk data kredit dan DPK; Juli-Agustus 2026 untuk pertumbuhan M0; September 2026 untuk insentif 2 persen.
  • Why?
    BI ingin mendorong bank menyalurkan lebih banyak kredit dan membuat penyebaran likuiditas lebih merata.
  • How?
    BI memantau tekanan serta kelebihan likuiditas bank dan menyiapkan KLM sebesar 6 persen, termasuk insentif bagi penyaluran kredit sektor prioritas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?
Vote Now

Bu Destry bilang kredit bank tumbuh 13,6 persen pada Juli 2026, lebih cepat dari DPK yang tumbuh 11,21 persen. Bank Indonesia melihat ada bank yang kekurangan atau kelebihan uang. Bank Indonesia mau membuat kebijakan agar uang bank lebih merata dan bank bisa memberi lebih banyak kredit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?
Vote Now

Langkah BI menyiapkan kebijakan pemerataan likuiditas memberi ruang bagi bank yang memiliki banyak dana pada SRBI dan SBN untuk mengurangi posisinya. Skema KLM sebesar 6 persen juga mengaitkan insentif dengan kredit sektor prioritas, termasuk industri padat karya dan UMKM.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan kredit perbankan dan dana pihak ketiga (DPK).

Per Juli 2026, kredit perbankan tumbuh 13,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK yang mencapai 11,21 persen.

Menurutnya, sebelumnya pertumbuhan DPK cenderung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit. Namun, kondisi tersebut berbalik dalam beberapa waktu terakhir.

"Kalau sebelumnya di periode sebelumnya DPK itu yang merah, DPK itu selalu tumbuh diatas kredit. Tapi belakangan kredit itu sudah tumbuh di melebihi DPK," kata Destry di Jakarta, Kamis (3/9).

BI saat ini terus melihat bank mana yang mengalami tekanan likuiditas dan bank mana yang mengalami kelebihan likuiditas.

Ia mengatakan, saat ini kondisi likuiditas perbankan masih tersegmentasi sementara pertumbuhan kredit masih banyak ditopang oleh sektor pemerintah, BUMN, dan swasta non IKNB termasuk Danantara.

Di tingkat industri, Destry menyebut rasio alat likuid terhadap DPK atau AL/DPK masih berada di kisaran 23-24 persen.

BI juga melihat perkembangan uang primer atau M0. Destry mengatakan pertumbuhan M0 pada Juli-Agustus 2026 berada di atas 15 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa likuiditas secara makro masih tersedia.

"Artinya likuiditas itu sebenarnya ada. Tapi tinggal sekarang kalau kita bicara likuiditas, penyebarannya merata atau tidak," ujarnya.

Destry mengatakan persoalan berikutnya adalah pemanfaatan likuiditas oleh perbankan. BI menemukan terdapat bank yang menggunakan likuiditasnya bukan untuk intermediasi, melainkan untuk menempatkan dana pada instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Untuk mengatasi hal tersebut, Destry mengatakan bahwa BI akan menyiapkan suatu kebijakan yang untuk membuat ini merata.

Untuk mendorong bank menyalurkan lebih banyak kredit, BI mengatakan dari skema Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)sebesar 6 persen, sebanyak 4 persen diberikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, seperti industri padat karya dan UMKM.

Sementara itu, 2 persen lainnya mulai September 2026 diberikan kepada bank yang tidak terlalu banyak menempatkan dananya di SRBI dan SBN.

“Nah tujuannya apa? Jadi bank-bank tadi yang punya banyak outstanding tadi, SRBI khususnya dan juga SBN, dia akan mulai mengurangi posisinya, dia punya cash dan dia bisa kita dorong untuk intermediasi,” katanya.

Pilih pandanganmu soal penyaluran likuiditas bank

Apakah bank perlu menyalurkan lebih banyak kredit?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article