Jakarta, FORTUNE — Melimpahnya cadangan nikel, batu bara, minyak sawit, hingga berbagai komoditas strategis belum tentu menjadi jaminan kemakmuran bagi Indonesia. Di balik kekayaan alam tersebut, ekonom menilai mulai muncul sejumlah gejala yang mengarah pada resource curse atau kutukan sumber daya alam, yakni kondisi ketika kekayaan komoditas justru menghambat pembangunan ekonomi.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini mengatakan Indonesia saat ini berada pada fase yang menentukan apakah kekayaan sumber daya alam akan menjadi modal pembangunan atau justru berubah menjadi beban ekonomi jangka panjang.
"Indonesia ini ada di simpang jalan antara berkah dan kutukan. Tidak tahu nanti bagaimana nasibnya," katanya dalam diskusi publik INDEF bertema Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutukan?, Senin (29/6).
Menurut Didik, keberadaan sumber daya alam pada dasarnya tidak otomatis membawa manfaat ataupun kerugian. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kualitas institusi, tata kelola pemerintahan, serta sistem politik yang menopangnya.
Ia mencontohkan Norwegia, Australia, dan Kanada sebagai negara yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkat kelembagaan yang kuat. Sebaliknya, Venezuela dan Nigeria menjadi contoh negara yang gagal mengelola sumber daya alam sehingga menghadapi kemiskinan, lemahnya diversifikasi ekonomi, dan rapuhnya institusi.
Didik mengutip riset ekonom Indef Nailul Farih yang menunjukkan bahwa hubungan antara sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi bersifat kondisional. Kekayaan alam cenderung memberikan manfaat bagi negara berpendapatan menengah dan tinggi yang memiliki institusi kuat, tetapi justru berdampak negatif di negara dengan kualitas kelembagaan yang lemah.
Mengacu pada teori New Institutional Economics, ia menjelaskan bahwa perlindungan hak kepemilikan, birokrasi yang efektif, tata kelola yang baik, serta institusi politik yang mendukung dunia usaha merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan pengelolaan sumber daya alam.
"Masalah yang harus dibenahi bukan sumber daya alamnya, melainkan kebijakannya dan sistem ekonomi politiknya," katanya, menegaskan.
