Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lahan BUMN di Bali Dikaji untuk PFII, Awal Beroperasi di Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dok Fortune Indonesia
  • Pemerintah sedang mengkaji pemanfaatan lahan BUMN di Bali untuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), sementara tahap awal pengembangannya akan dimulai di Jakarta.
  • Airlangga Hartarto menegaskan lokasi awal PFII dipilih berdasarkan kesiapan infrastruktur agar proyek dapat segera berjalan tanpa hambatan berarti.
  • Purbaya Yudhi Sadewa menyebut PFII berpotensi menarik modal asing dan dana WNI dari luar negeri, meski besaran repatriasi belum bisa dipastikan karena sulit dihitung secara akurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah sedang mengkaji pemanfaatan lahan milik BUMN di Bali untuk dijadikan lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), dengan tahap awal pengembangan dimulai di Jakarta.
  • Who?
    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan rencana serta pandangan terkait pembentukan PFII dan potensi aliran modal ke Indonesia.
  • Where?
    Kajian dilakukan terhadap lahan BUMN di Bali, sementara lokasi awal operasional PFII disiapkan di Jakarta yang gedungnya sudah tersedia.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Kamis, 23 Juli, saat pemerintah tengah menyiapkan langkah awal pembentukan PFII dan melakukan kajian atas lokasi potensial di Bali.
  • Why?
    Pembentukan PFII bertujuan mempercepat pengembangan pusat keuangan internasional serta menarik masuknya modal, termasuk dana milik WNI dari luar negeri ke dalam negeri.
  • How?
    Pemerintah menyiapkan lokasi yang siap digunakan agar proses pendirian lebih cepat, sambil menunggu hasil kajian rinci mengenai lahan BUMN yang berpotensi digunakan di Bali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan lahan milik badan usaha milik negara (BUMN) di Bali sebagai lokasi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

Airlangga mengatakan pemerintah saat ini telah menyiapkan satu lokasi di Jakarta untuk menjadi lokasi tahap awal pengembangan PFII.

“Memang disiapkan satu lokasi di Jakarta yang gedungnya sudah ada,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurutnya, pemerintah memprioritaskan lokasi yang dapat segera dimanfaatkan agar pembentukan PFII bisa berjalan lebih cepat.

“Pertimbangannya yang low hanging fruit, yang paling cepat bisa kita dirikan,” ujarnya.

Di samping itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) berpotensi mendorong masuknya modal ke Indonesia, termasuk dana milik warga negara Indonesia (WNI) yang selama ini ditempatkan di luar negeri.

Meski demikian, Purbaya mengaku belum dapat memperkirakan besaran potensi repatriasi tersebut karena sebagian dana yang berada di luar negeri sulit dihitung.

“Saya enggak tahu angkanya seperti apa, cuman harusnya sih besar. Kalau seberapa besar berarti saya sudah tahu angkanya persis, padahal itu uang-uang sebagian gelap, berarti enggak bisa dihitung. Tapi pasti besar sekali,” kata Purbaya di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurutnya, tidak semua dana milik WNI di luar negeri akan langsung kembali ke Indonesia setelah PFII dibentuk. Namun, ia berharap keberadaan pusat keuangan internasional tersebut mampu menarik aliran modal baru dari berbagai negara.

“Yang kita harapkan nanti yang di luar negeri seperti dari kawasan Timur Tengah atau negara-negara lain yang mau masuk ke sini. Tempat di sini kan menarik. Ekspektasi saya zero to positive. Artinya ini game yang bagus yang harus diambil,” ujarnya.

Terkait rencana penggunaan lahan BUMN sebagai lokasi PFII yang sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Purbaya mengatakan hingga kini belum ada pembahasan yang rinci.

“Mereka pernah lihat beberapa tempat, tapi usulannya kan belum selalu jelas. Belum dikasih tahu yang punya tanah siapa,” kata Purbaya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article