Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonom Soroti Manfaat MBG Belum Terlihat Nyata Meski Anggaran Signifikan
Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akhmad Akbar S dalam diskusi 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta Selatan pada Rabu (14/10). Dok Fortune Indonesia
  • Manfaat MBG terhadap kesehatan dan pendidikan anak dinilai belum terukur karena data evaluasi dampak belum tersedia.

  • Studi lain menemukan MBG meningkatkan kehadiran siswa, tetapi dampaknya pada prestasi pendidikan dan kesehatan masih cenderung rendah.

  • Perubahan anggaran serta perbedaan data kasus keracunan menjadi sorotan dalam pelaksanaan MBG.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1.000 hari pertama kehidupan

Intervensi untuk mencegah stunting semestinya berfokus pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.

sekitar satu hingga hampir dua tahun

Program MBG disebut baru berjalan sekitar satu hingga hampir dua tahun. Evaluasi dampaknya dinilai membutuhkan waktu.

2026

Alokasi dana MBG berubah dari Rp 335 triliun menjadi Rp 248 triliun dan kembali menjadi Rp 217 triliun.

Rabu (14/10)

Akhmad Akbar menyampaikan penilaian mengenai manfaat, biaya, dan risiko MBG dalam diskusi 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta Selatan.

hingga saat ini

Belum ada data evaluasi dampak dari Badan Gizi Nasional atau pihak terkait yang menjelaskan pengaruh MBG pada kesehatan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Manfaat program Makan Bergizi Gratis terhadap kesehatan dan pendidikan anak dinilai belum terukur.
  • Who?
    Akhmad Akbar S dari CORE Indonesia menyampaikan penilaian tersebut dalam diskusi 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.
  • Where?
    Penilaian itu disampaikan dalam diskusi yang berlangsung di Jakarta Selatan.
  • When?
    Penilaian disampaikan pada Rabu (14/10), saat program telah berjalan sekitar satu hingga hampir dua tahun.
  • Why?
    Belum ada data evaluasi dampak yang menjelaskan pengaruh MBG terhadap kesehatan anak, sementara data kasus keracunan masih berbeda-beda.
  • How?
    MBG diberikan kepada anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan, dengan alokasi anggaran 2026 yang berubah dari Rp 335 triliun menjadi Rp 248 triliun lalu Rp 217 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Program Makan Bergizi Gratis untuk anak-anak dinilai belum punya data yang jelas tentang kesehatan dan belajar mereka. Akhmad Akbar membahas program ini. Ada studi yang bilang anak jadi lebih sering datang ke sekolah, tetapi manfaat untuk nilai dan kesehatan masih rendah. Anggarannya besar dan data keracunan masih berbeda-beda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Program MBG disebut memiliki dampak positif berupa peningkatan kehadiran siswa di sekolah berdasarkan studi lain yang ditemukan Akhmad Akbar. Temuan ini menunjukkan adanya manfaat pada partisipasi pendidikan, meski pengaruh terhadap prestasi dan kesehatan masih cenderung rendah serta tetap membutuhkan evaluasi berbasis data.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap kesehatan dan pendidikan anak Indonesia dinilai belum terukur, ditengah besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia Akhmad Akbar S menilai, hingga saat ini belum ada data evaluasi dampak dari Badan Gizi Nasional atau pihak terkait yang menjelaskan pengaruh MBG pada kesehatan anak.

“Jadi sekali lagi kalau saya rangkum, manfaatnya belum nyata, biaya dan risikonya jelas,” kata Akbar dalam diskusi 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta Selatan pada Rabu (14/10).

Ia menyoroti desain program MBG yang sejak awal turut dikaitkan dengan upaya penanganan stunting. Padahal, intervensi untuk mencegah stunting semestinya berfokus pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.

Sementara itu, penerima MBG mencakup anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk siswa sekolah menengah atas.

“Saya bukan ahli kesehatan, tetapi kalau kata orang-orang kesehatan, kalau mengatasi stunting itu kan harusnya, ya perhatian diberikan pada umur 1.000 hari pertama,” ujarnya.

Sementara itu, Akbar menemukan bahwa studi lain menjelaskan bahwa program MBG justru meningkatkan kehadiran siswa di sekolah. Namun, manfaat kepada prestasi dalam pendidikan dan dampak pada kesehatan masih cenderung rendah.

Akbar mengakui, evaluasi dampak membutuhkan waktu karena program tersebut baru berjalan sekitar satu hingga hampir dua tahun. Meski demikian, ia menilai data evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui hasil program.

Di sisi anggaran, Akbar menyoroti perubahan alokasi dana MBG pada 2026. Menurutnya, anggaran program tersebut sempat disebut sebesar Rp 335 triliun, yang terdiri dari Rp 268 triliun untuk anggaran BGN dan Rp 67 triliun sebagai cadangan anggaran.

Namun, angka tersebut kemudian diturunkan menjadi Rp 248 triliun dan kembali berubah menjadi Rp 217 triliun.

Akbar menilai, meski alokasi anggaran telah beberapa kali diturunkan, jumlahnya masih besar.

Selain biaya, ia juga menyoroti risiko pelaksanaan program, terutama kasus keracunan yang melibatkan penerima MBG. Menurut Akhmad, data mengenai jumlah kasus dan anak yang mengalami keracunan masih berbeda-beda.

Ia menilai, ketidaktersediaan satu data yang jelas mengenai kasus keracunan menjadi persoalan dalam pelaksanaan program yang memiliki anggaran besar tersebut.

“Jadi ketidakadaan data saja menunjukkan bahwa sebuah program dengan anggaran yang begitu besar itu tidak disiapkan dengan baik,” kata Akbar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article