Jakarta, FORTUNE – Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri furnitur. Ketersediaan kayu sebagai bahan baku menjadi salah satu keunggulan yang seharusnya dapat menopang pertumbuhan industri. Namun, modal tersebut belum otomatis membuat produk furnitur Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara produsen lain, terutama Vietnam.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan industri furnitur nasional masih menunjukkan perkembangan yang positif. Pada 2025, nilai pasar furnitur yang disebut dalam paparan Kementerian Perindustrian mencapai US$736,21 miliar.
Di tingkat global, kayu juga masih menjadi material utama dalam industri furnitur. Pada 2026, material tersebut disebut menguasai sekitar 62 persen pasar furnitur dunia.
“Indonesia memiliki potensi yang bagus karena memiliki ketersediaan kayu yang banyak,” ujar Putu Juli Ardika dalam pembukaan IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dikutip Jumat (25/9).
Meski demikian, ketersediaan bahan baku saja dinilai belum memadai untuk mengangkat daya saing industri furnitur Indonesia. Putu mencontohkan Vietnam yang dalam dua dekade terakhir mampu memperbesar kapasitas industri pengolahan kayunya hingga menjadi salah satu pemain utama di pasar global.
Data perdagangan Vietnam menunjukkan nilai ekspor kayu dan produk kayu negara tersebut mencapai sekitar US$17,2 miliar pada 2025. Produk furnitur kayu menjadi salah satu penopang utama ekspor tersebut.
“Ini menunjukkan pentingnya penguatan teknologi dan modernisasi mesin produksi untuk meningkatkan daya saing industri nasional,” kata Putu.
Menurut Kementerian Perindustrian, pembaruan mesin dan peralatan produksi menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipercepat. Modernisasi tersebut diharapkan dapat membuat proses produksi lebih efisien sekaligus meningkatkan kapasitas industri.
Pemerintah pun telah menyediakan program bantuan modernisasi mesin melalui skema insentif reimbursement hingga 35 persen dari nilai investasi mesin dan peralatan yang dilakukan pelaku usaha.
Program tersebut, menurut Kemenperin, telah memberikan dampak terhadap kinerja industri. Modernisasi mesin dan peralatan tercatat mampu meningkatkan efisiensi sebesar 10,70 persen, kualitas 36,28 persen, serta produktivitas 32,65 persen.
Namun, persoalan daya saing industri kayu dan furnitur tidak semata-mata berada pada teknologi produksi. Bagi pelaku industri, persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana ekosistem industri dibangun.
Owner PT Kayu Bagus Internasional/ELWOOD, Handi Setiawan, melihat ada perbedaan mendasar antara struktur industri Indonesia dengan negara seperti Vietnam dan Cina. Menurut dia, industri kayu Indonesia justru memiliki sejarah yang lebih panjang, tetapi perkembangan industrinya tidak secepat negara-negara tersebut.
Handi mengatakan, Indonesia memiliki kecenderungan membangun proses industri secara terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam satu perusahaan.
“Di Indonesia ini punya kecenderungan untuk setiap industri kayu adalah semuanya sempat dikerjakan sendiri mulai dari bahan baku produksi pembahanan dan produksi finishing bahkan ekspor semua dikerjakan sendiri efek dari itu apa? hanya pemodal-pemodal besar yang sanggup untuk investasi di industri perkayuan,” ujarnya, dalam diskusi Membangun Ekosistem Industri Kayu Indonesia, dari model "Serba Sendiri" Menuju Jaringan Industri yang Kompetitif di IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (25/9).
Menurut dia, pola tersebut membuat kebutuhan modal menjadi besar sekaligus membatasi masuknya pelaku usaha baru. Di sisi lain, spesialisasi keahlian dalam industri kayu juga menjadi lebih sulit berkembang
Handi mencontohkan keahlian khusus seperti finishing. Menurut dia, kebutuhan terhadap tenaga ahli di bidang tersebut cukup tinggi, tetapi ketersediaannya di Indonesia masih terbatas.Kondisi itu pada akhirnya berdampak pada efisiensi. Ketika banyak tahapan produksi harus dilakukan sendiri, perusahaan membutuhkan investasi lebih besar, sementara tenaga kerja dengan keahlian yang sangat spesifik tak mudah ditemukan.
