Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menakar Daya Saing Industri Furnitur Kayu RI, Apa yang Jadi Tantangan?
ilustrasi furnitur kayu (unsplash.com/Julian Hochgesang)
  • Indonesia punya potensi besar dari ketersediaan kayu, tetapi daya saing furnitur masih tertinggal dari Vietnam yang mencatat ekspor kayu dan produk kayu sekitar US$17,2 miliar pada 2025.
  • Kemenperin mendorong modernisasi mesin lewat insentif reimbursement hingga 35 persen investasi; pembaruan peralatan tercatat meningkatkan efisiensi 10,70 persen, kualitas 36,28 persen, dan produktivitas 32,65 persen.
  • Industri menghadapi struktur serba terintegrasi yang membutuhkan modal besar, minim spesialisasi, pasokan kayu menurun, serta regulasi ketertelusuran; pemerintah menyiapkan penguatan hulu-hilir, desain berkelanjutan, dan pasar domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri furnitur. Ketersediaan kayu sebagai bahan baku menjadi salah satu keunggulan yang seharusnya dapat menopang pertumbuhan industri. Namun, modal tersebut belum otomatis membuat produk furnitur Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara produsen lain, terutama Vietnam.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan industri furnitur nasional masih menunjukkan perkembangan yang positif. Pada 2025, nilai pasar furnitur yang disebut dalam paparan Kementerian Perindustrian mencapai US$736,21 miliar.

Di tingkat global, kayu juga masih menjadi material utama dalam industri furnitur. Pada 2026, material tersebut disebut menguasai sekitar 62 persen pasar furnitur dunia.

“Indonesia memiliki potensi yang bagus karena memiliki ketersediaan kayu yang banyak,” ujar Putu Juli Ardika dalam pembukaan IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dikutip Jumat (25/9).

Meski demikian, ketersediaan bahan baku saja dinilai belum memadai untuk mengangkat daya saing industri furnitur Indonesia. Putu mencontohkan Vietnam yang dalam dua dekade terakhir mampu memperbesar kapasitas industri pengolahan kayunya hingga menjadi salah satu pemain utama di pasar global.

Data perdagangan Vietnam menunjukkan nilai ekspor kayu dan produk kayu negara tersebut mencapai sekitar US$17,2 miliar pada 2025. Produk furnitur kayu menjadi salah satu penopang utama ekspor tersebut.

“Ini menunjukkan pentingnya penguatan teknologi dan modernisasi mesin produksi untuk meningkatkan daya saing industri nasional,” kata Putu.

Menurut Kementerian Perindustrian, pembaruan mesin dan peralatan produksi menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dipercepat. Modernisasi tersebut diharapkan dapat membuat proses produksi lebih efisien sekaligus meningkatkan kapasitas industri.

Pemerintah pun telah menyediakan program bantuan modernisasi mesin melalui skema insentif reimbursement hingga 35 persen dari nilai investasi mesin dan peralatan yang dilakukan pelaku usaha.

Program tersebut, menurut Kemenperin, telah memberikan dampak terhadap kinerja industri. Modernisasi mesin dan peralatan tercatat mampu meningkatkan efisiensi sebesar 10,70 persen, kualitas 36,28 persen, serta produktivitas 32,65 persen.

Namun, persoalan daya saing industri kayu dan furnitur tidak semata-mata berada pada teknologi produksi. Bagi pelaku industri, persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana ekosistem industri dibangun.

Owner PT Kayu Bagus Internasional/ELWOOD, Handi Setiawan, melihat ada perbedaan mendasar antara struktur industri Indonesia dengan negara seperti Vietnam dan Cina. Menurut dia, industri kayu Indonesia justru memiliki sejarah yang lebih panjang, tetapi perkembangan industrinya tidak secepat negara-negara tersebut.

Handi mengatakan, Indonesia memiliki kecenderungan membangun proses industri secara terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam satu perusahaan.

“Di Indonesia ini punya kecenderungan untuk setiap industri kayu adalah semuanya sempat dikerjakan sendiri mulai dari bahan baku produksi pembahanan dan produksi finishing bahkan ekspor semua dikerjakan sendiri efek dari itu apa? hanya pemodal-pemodal besar yang sanggup untuk investasi di industri perkayuan,” ujarnya, dalam diskusi Membangun Ekosistem Industri Kayu Indonesia, dari model "Serba Sendiri" Menuju Jaringan Industri yang Kompetitif di IFMAC WOODMAC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (25/9).

Menurut dia, pola tersebut membuat kebutuhan modal menjadi besar sekaligus membatasi masuknya pelaku usaha baru. Di sisi lain, spesialisasi keahlian dalam industri kayu juga menjadi lebih sulit berkembang

Handi mencontohkan keahlian khusus seperti finishing. Menurut dia, kebutuhan terhadap tenaga ahli di bidang tersebut cukup tinggi, tetapi ketersediaannya di Indonesia masih terbatas.Kondisi itu pada akhirnya berdampak pada efisiensi. Ketika banyak tahapan produksi harus dilakukan sendiri, perusahaan membutuhkan investasi lebih besar, sementara tenaga kerja dengan keahlian yang sangat spesifik tak mudah ditemukan.

Owner PT Kayu Bagus Internasional/ELWOOD, Handi Setiawan/Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.

Belajar dari ekosistem Vietnam dan Cina

Handi menilai pengalaman Vietnam dapat menjadi pembelajaran, terutama dalam membangun industri pendukung. Menurut dia, masuknya investor asing ke Vietnam turut membawa jaringan pemasok yang mendukung proses produksi, mulai dari cat, hardware, komponen metal hingga kulit.

Dengan ekosistem tersebut, perusahaan furnitur tidak harus memproduksi seluruh komponen sendiri. Sebagian kebutuhan dapat diperoleh dari perusahaan lain yang memang mengkhususkan diri pada produk pendukung.

"Ini pelajaran yang kita perlu lihat supaya kenapa mereka berkembang dan kita tidak berkembang,” kata Handi.

Ia juga menyoroti konsep klaster industri yang berkembang di Cina. Menurutnya, konsentrasi industri dalam satu kawasan membuat pembeli lebih mudah menemukan produsen sekaligus pemasok pendukung. Sebagai contoh, di satu kawasan industri (11:18) itu ada lebih dari 500 pabrik yang memproduksi lantai kayu di satu kawasan,” ujarnya.

Model seperti itu, menurut dia, memberikan keuntungan bagi produsen maupun pembeli. Pembeli tidak perlu berpindah-pindah lokasi untuk mencari pemasok karena produsen dan industri pendukung berada dalam satu kawasan.

Persoalan ekosistem tersebut menjadi semakin penting ketika industri Indonesia menghadapi tekanan dari produk Cina. Handi mengatakan masuknya pemain asal Cina ke berbagai negara Asia tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Malaysia dan Thailand.

Menurut dia, tekanan persaingan di pasar domestik Cina membuat para pelaku usaha di Negeri Tirai Bambu itu mencari pasar di luar negeri.

Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan berupa bahan baku kayu. Namun, akses industri terhadap bahan baku tersebut masih menjadi persoalan yang perlu dibenahi.

Selain struktur industri, ada tantangan dari sisi pasokan bahan baku. Ia mengatakan pasokan kayu dari sumber domestik mengalami penurunan secara volume sehingga berpotensi meningkatkan harga bahan baku.

Di saat yang sama, pelaku industri juga menghadapi persoalan regulasi dan ketertelusuran bahan baku. Handi menyinggung sejumlah ketentuan terkait legalitas dan dokumentasi yang menurutnya masih menjadi perhatian pelaku usaha.

Menurut Handi, pemerintah dan asosiasi memiliki peran dalam membangun dan memperkuat ekosistem yang memungkinkan perusahaan saling melengkapi.

Bahkan, ia melihat kompetitor tidak selalu harus diposisikan sebagai ancaman. Bertambahnya pelaku usaha pada bidang tertentu justru dapat memperbesar kapasitas industri pendukung.

Dari sisi pemerintah, Kemenperin melihat penguatan daya saing industri perkayuan dan furnitur perlu dilakukan melalui sejumlah agenda secara bersamaan.

Putu menyebut empat fokus utama. Pertama, memperkuat integrasi industri hulu dan hilir sekaligus memastikan ketertelusuran bahan baku. Kedua, mempercepat modernisasi teknologi dan meningkatkan produktivitas. Ketiga, mendorong transformasi desain dan keberlanjutan. Keempat, memperkuat pasar domestik melalui optimalisasi penggunaan produk dalam negeri. Pasar lokal diharapkan dapat menjadi fondasi bagi industri sebelum memperluas penetrasi ke pasar ekspor.

Putu menilai pelaksanaan agenda tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, hingga mitra dalam ekosistem industri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article